Bedah Buku Minhaj; Berislam, dari Ritual hingga Intelektual

Oleh: Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. M.A.Ed., M.Phil.

Dewasa ini, banyak orang Islam yang tidak menjalankan rukun Islam, kendati demikian pun mereka yang menjalankannya sekedar ritual saja tanpa dibungkus dengan iman. Lalu, yang meyakini rukun iman-pun tidak dibuktikan dalam amal. Padahal, syariat berfungsi sebagai pembersih jiwa dan peningkat keimanan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah menjelaskan mengenai Islam, iman, dan ihsan. Ketiganya ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya, ketiganya disebut trilogi dalam agama Islam.

Mengamalkan rukun Islam yang lima perlu adanya keyakinan pada rukun iman yang enam, serta harus dibuktikan dengan amal. Seperti dalam al-Quran sering disebutkan “innalladzīna āmanū wa ‘amilussālihāt.. ”. Orang yang mengakui beriman, tentunya ia harus beramal shaleh. Iman dan amal shaleh pun juga ada tingkat kualitasnya. Tingkat amal yang tertinggi adalah berbuat baik di segala tempat dan waktu.

Namun, apakah orang Islam hanya sampai pada beriman dan beramal shaleh saja? Dalam hal ini, CIOS UNIDA Gontor mengadakan bedah buku “Minhaj; Beriman dari Ritual hingga Intelektual” karya Assoc. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil selaku direktur utama CIOS UNIDA Gontor dengan pembanding atau pembedah Al-Ustadz Hasib Amrullah, M.Ud kandidat doktor di UNIDA Gontor.
Acara ini diselenggarakan pada hari Jum’at (7/8/2020) dan dimoderatori langsung oleh Yongki Sutoyo, S.T mahasiswa pascasarjana UNIDA Gontor dan juga pembimbing junior resercher CIOS UNIDA Gontor.

Acara dimulai dengan kata sambutan oleh bapak dekan fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor, Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls. Dalam penyampaiannya Ust Syamsul sangat mengapresiasi dengan adanya kegiatan semisal bedah buku ini sehingga harapan untuk kedepannya CIOS dapat menjadikan ini sebagai kegiatan rutin. “Kajian itu manfaatnya banyak sekali di antaranya adalah untuk melatih pikiran kita dan cara kita mendapatkan ilmu” jelas beliau.

Beliau juga menambahkan, bahwa acara bedah buku akan memberikan kita wawasan yang akurat sehingga demikian kita dapat membedakan antara yang haq dan batil. Selain itu, acara bedah buku juga memberikan kita kesempatan untuk memberikan kritik konstruktif kepada penulis demi kemajuan disiplin keilmuan. Dengan begitu, ilmu yang dihasilkan akan selalu terupgrade secara bertahap guna menutup kekurangan yang ada.

Usai sambutan, acara dilanjutkan kepada sesi bedah buku. Ust Yongki Sutoyo sebagai moderator membuka pembicaraan dengan kata pengantar Islamic Worldview. Ia juga menegaskan bahwa umat dewasa ini sedang menghadapi problem yang serius yaitu pada tingkat intelektualitas. Selain itu, pembimbing junior researcher itu juga menjelaskan bahwa buku Minhaj adalah karya yang harus dibaca oleh setiap kalangan masyarakat. Menurutnya, buku tersebut menggambarkan bagaimana seharusnya kita berpijak. “Minhaj menjelaskan secara detail pondasi yang harus terdapat dalam diri seorang muslim” ujar beliau.

Setelah penyampaian prolog singkat dari moderator, acara diserahkan kepada pemateri, Al-Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi. Direktur CIOS UNIDA Gontor itu memulai pembicaraannya dengan melontarkan empat kisah yang terdapat dalam karyanya. Cerita tersebut adalah:

(1) Kisah Muhammad Abduh yang berkesempatan mengunjungi kota paris dan melihat fenomena yang unik dibanding dengan negara Arab. Ia berkata “Ra’aitu al-Muslimūn fī al-Arab wa lam ara Islāman”. Hal demikian mengisyaratkan bahwa umat Muslim tidak sebanding dengan orang kafir dalam masalah etos kerja, kejujuran dan lain sebagainya


(2) Kisah Amir Syakieb Arsalan yang sempat menerima surat penting dari pimpinan redaksi majalah al-Manar yang berisi beberapa pertanyaan. Bunyi pertanyaannya hampir mirip dengan pernyataan yang terjadi pada kisah pertama. “Mengapa kaum Muslimin mengalami kelemahan dan kemunduran sedangkan orang kafir berbanding sebaliknya?”. Pertanyaan ini dijawab oleh Arsalan melalui bukunya yang berjudul “Limādza Taakhara al-Muslimūn wa Taqaddama Ghayruhum;

(3) Kisah Syaikh Sya’rawi yang sempat ditanya oleh seorang orientalis. Bunyinya begini “mengapa muslim masih dikuasai oleh orang kafir sedangkan ada ayat yang menjelaskan bahwa orang muslim tidak akan dikuasai orang kafir”. Lalu ia menjawab “hal tersebut dikarenakan orang Islam masih gersang akan ilmu, ilmu ekonomi, sosial, militer dan semacamnya”. Ia juga sempat menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena orang Islam belum meningkatkan derajat keislamannya pada tingkat keimanan;


(4) kisah penulis buku yang sempat ditanya oleh Bang Nuaim Khayyat, seorang penyiar radio di Australia. “Mengapa di Indonesia semangat menjalankan syariat Islam berbarengan dengan semangat bermaksiat kepada Allah?”. “Karena kaum Muslimin belum meningkatkan keislamannya kepada tingkat keimanan” jawab Ust Hamid.

Selain itu, ia menegaskan bahwa shalat, puasa, haji berujung pada tazkiyatun nafs. Maka, orang-orang yg paham syari’at seharusnya sosialnya sangat tinggi. Jika tidak, bisa jadi orang tersebut hanya memahami ritual saja.
Tambahnya bahwa iman itu tidak hanya di dalam hati saja, tapi juga keyakinan dan pengimplementasiannya. Tentu ini kritikan besar terhadap orang hanya menganggap bahwa beriman itu hanya dalam hati saja. Dan bisa dikatakan bahwa di atas dari mukmin itu adalah muhsin atau al-Islām fī maqām al-Ihsān.
Dalam pemaparan terakhir, menjelaskan bahwa buku ini intinya pada pembahasan beriman dengan intelektual.

Sekitar kurang lebih satu setengah jam-an beliau menyampaikan, kemudian pembedah buku Ust Hasib Amrullah menyampaikan bahwa buku ini sangat bagus sekali, ringan tapi sangat disiplin dengan penulisan yaitu dimulai dengan sebuah problem. Ini sebenarnya ciri khas dari gaya penulisan Ust Hamid.
“Untuk memahami buku ini, kita harus memahami dulu bagaimana Islam”. Ujar Ust Hasib selaku pembedah.
Beliau menyampaikan bahwa arti dalam Islam ada 3, yaitu tunduk, di mana dalam kimia al-Sa’adah Imam al-Ghazali menyampaikan untuk sampai pada kebahagiaan harus dimulai dari diri kita dulu. Artinya sebelum mengenal Allah, kita harus mengenal diri kita terlebih dahulu, siapa kita? Dari mana kita? Untuk apa kita diciptakan??
Kemudian arti kedua adalah ‘berserah diri’, yaitu berserah terhadap apa yang sudah ditaqdirkan open Sang Pencipta yang tidak lebih manusia dari ikhtiyar. Ketiga, menyelamatkan, yaitu dari asal kata aslama-yuslimu.
Dari ketiga di atas, Ust Hasib merangkum bahwa Islam itu adalah sistem untuk pengelolaan ayat dengan ketundukan, kepasrahan dan keselamatan. Karena manusia hakikatnya adalah din (agama) atau berhutang pada Tuhannya.
Pembuktian dalam membayar hutang tersebut, umat Islam haruslah bersyahadat, karena itu adalah ungkapan cinta yang melibatkan akal. Selain itu juga, shalat termasuk bagian dari tazkiyah, badan kita ini kotor, sehingga hati kita tertutup, maka perlu dibersihkan dengan shalat. Karena “sesuatu yang Indah akan didekati dengan yang indah” ungkapnya.

CIOS UNIDA Gontor