Dekonstruksi Syari’ah: Tinjauan Kritis Terhadap Tafsir al-Qur’an berbasis Hermeneutika

Rd Adityawarman Program Kaderisasi Ulama UNIDA Gontor, Ponorogo aditya.warman@unida.gontor.ac.id

Program Kaderisasi Ulama UNIDA Gontor, Ponorogo aditya.warman@unida.gontor.ac.id

  Di era globalisasi saat ini ide dan usulan untuk melakukan pembacaan dan pemaknaan ulang teks-teks primer agama Islam diusungkan dengan terang-terangan. Tujuannya adalah untuk menundukkan teks-teks Al-Qur’an agar dapat sesuai dengan nilai-nilai modernitas sekuler. Ide pemikiran dan usulan itu disuarakan serempak oleh pemikir modernis muslim baik di Timur Tengah maupun dunia Islam lainnya, termasuk di Indonesia. Hal itu direalisasikan melalui berbagai seminar, workshop, serta penerbitan buku yang berasal dari hasil kajian dan penelitian dilakukan secara gencar untuk menonjolkan betapa pentingnya “pembacaan kritis” dan “pemaknaan baru” teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.1

Makna Dekonstruksi

  Dekonstuksi berasal dari Bahasa Inggris deconstruct yang berarti “to analyse a text in order to show that there is no fixed meaning within the text but that the meaning is created each time in the act of reading”; dan deconstruction yang berarti “a theory that states that it is impossible for a text to have one fixed meaning, and emphasizes the role of the reader in the production of meaning.”2

  Dekonstruksi adalah teori filsafat criticism digunakan pada literatur untuk menonjolkan kontradiksi pada ajaran atau literatur tertentu salah satu tokohnya adalah Jean Jacques Derrida dalam bukunya Dissemination.3 Ketika dihadapkan pada hal tersebut, maka kita harus merujuk super structure of the mind (worldview) untuk menjawab berbagai tantangan yang datang. Dekonstruksi bertujuan menyelami epistimologi, cara pandang, konsep, dan pembenaran untuk membongkar dan meruntuhkan apa yang sudah dibangun (dalam hal ini adalah syari’at).

Makna Syari’ah

Apa yang telah Allah berikan kepada umat manusia berupa hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhammad. Syari’ah berkaitan dengan hukum/fiqh, aqidah dan akhlaq. Sederhananya,

1 Fahmi Salim, Tafsir Sesat: 58 Essai Kritis Wacana Islam di Indonesia, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 244

2 A S Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary, (New York: Oxford University Press, 2000), Sixth Edition, hlm. 343 – 344

3 Jaques Derrida, Dissemination: (London: The Athlone Press Ltd, 1981) Translated, with an Introduction and Additional Notes, by Barbara Johnson, hlm. 7

syari’ah adalah aturan yang dibuat oleh Allah guna menertibkan segala lini kehidupan manusia, way of life. Kesimpulannya syari’ah itu adalah Islam/Din yang artinya al-inqiyad wal khudu’ atau melakukan penyerahan, memposisikan diri kepada Allah yang akan menyebabkan konsekuensi pada keselamatan. Dr. Fathi Ad-Durain mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Buhuts Muqaranah: fi Fiqhi al-Islami wa Ushulihi bahwa syari’ah adalah:4

“الشريعة هي ما أنزل هللا تعالى على نبيه صلى هللا عليه و سلم وحيا، من كتاب أو سنة، فهي النصوص المقدسة التي تضمنها

“.المطهرة الثابتة السنة و العزيز الكتاب Selain Dr. Fathi Ad-Durain, Syaikh Nuh Ali Salman Al-Qudah dalam pembukaan kitabnya

yang berjudul al-Mukhtashar al-Mufid fi Syarhi Jauharati at-Tauhid bahwa Islam terdiri dari aqidah dan syari’ah:5

“و اإلسالم عقيدة و شريعة، أما العقيدة ما يجزم به القلب، و أما الشريعة فما يجب أن يراعيه اإلنسان في سلوكه”

Fenomena Dekonstruksi Syari’ah

  Penggunaan metode hermeneutika sudah marak di kalangan akademisi bahkan di Indonesia sekalipun; salah satunya adalah yang dilakukan oleh Dr. Munirul Ikhwan. beliau adalah dosen di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Minat penelitiannya mencakup studi Al-Qur’an dan tafsirnya, studi Islam dan masyarakat Muslim, dan sejarah intelektual Islam. Dr. Munirul Ikhwan meraih gelar Ph.D. di bidang Studi Islam dari Freie Universität Berlin (2015); MA di bidang Studi Islam dari Leiden University (2010); dan Lc. (License) di bidang Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dari Universitas al-Azhar Kairo (2006). Selain itu, ia juga terlibat sebagai penanggungjawab kerjasama luar negeri dalam organisasi profesi Asosiasi Ilmu Al-quran dan Tafsir (AIAT), yaitu asosiasi dosen dan peneliti kajian al-Qur’an dan tafsir se-Indonesia.6 Salah satu karyanya yang akan dibahas kali ini adalah Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman: Merekonstruksi Konteks dan Menemukan Makna yang telah diterbitkan di Jurnal Nun Vol. 2 No. 1 tahun 2016 lalu.7

  Masuk ke pembahasan tulisannya, Dr. Munirul Ikhwan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah jawaban Tuhan dalam bentuk kalam literal melalui Nabi Muhammad SAW terhadap situasi moral, sosial dan politik di Jazirah Arab pada masa Nabi. Untuk menanggapi hal tersebut, Dr. Munirul Ikhwan memakai pendapat para cendikiawan Barat.8 Beliau menggunakan pendekatan

4 فتحي الدريين، حبوث مقارنة يف الفقه اإلسالمي و أصوله، (بريوت: للطباعة الرسالة، )2008 الطبعة الثانية، ص. 21

5 نوح علي سلمان القضاة، املخصر املفيد يف شرح جوهرة التوحيد، (عمان: دار الرازى، )1999، ص. 5

6 https://s.id/Profil_Dr_Munirul_Ikhwan_Dosen_Pascasarjana_UIN_Sunan_Kalijaga_Yogyakarta

7 Munirul Ikhwan, Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman: Merekonstruksi Konteks dan Menemukan Makna, Jurnal Nun Vol. 2 No. 1, 2016

8 Munirul Ikhwan, Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman… Hlm. 8

  sosiologis dan antropologis untuk menemukan konteks wahyu dan memberikan kesimpulan; bahwa Al-Qur’an turun secara bertahap dengan merespon pertanyaan dan situasi yang dihadapi Nabi, namun Nabi hanya melakukan fungsi sebagai penyampai risalah karena obyek utama Al- Qur’an adalah manusia. Analisis sosiologis dan antropologis menjadi instrument penting dalam merekonstruksi konteks sosial budaya masyarakat Arab periode wahyu dan memahami dialektika Alquran dengan realitas yang ‘membentuk’nya.9

  Menanggapai pernyataan Dr. Munirul Ikhwan mengenai definisi Al-Qur’an dirasa kurang tepat, karena menurutnya Al-Qur’an hanya diperuntukan bagi masyarakat Arab di zaman Nabi saja. Syaikh Manna’ Al-Qatthan dalam kitabnya yang berjudul Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an menerangkan bahwa Al-Qur’an bukan sekedar jawaban Tuhan atas kondisi yang terjadi di Arab saja sehingga membatasi nilai universalitasnya bagi seluruh manusia. Al-Qur’an adalah mu’jizat Islam yang abadi, di mana kemajuan ilmu pengetahuan semakin memperkuat sisi mu’jizatnya, yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengeluarkan umat manusia dari segala kegelapan menuju cahaya dan membimbing mereka menuju jalan yang lurus.10 Sehingga dengan penjelasan ini disimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia tidak terkhusus bagi bangsa Arab saja dan pada masa kenabian saja.

  Penggunaan pendekatan sosiologis dan antropologis saja untuk menemukan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dirasa kurang tepat. Dalam Islam, Syaikh Manna’ Al-Qatthan menuliskan ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui lebih dalam mengenai kandungan Al-Qur’an yakni melalui metode Tafsir dan Ta’wil.11 Ada juga metode yang ditawarkan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi yakni; menggabungkan antara riwayat dan dirayah, tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an dengan Sunnah yang sahih, menggunakan tafsir sahabat dan tabi’in, mengambil kemutlakan bahasa, memperhatikan konteks kalimat, memperhatikan asbabun nuzul, menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama.12 Oleh karenanya sangat tidak tepat jika mencari makna dari ayat-ayat Al-Qur’an melalui pendekatan sosiologis dan antropologis yang secara dominan digunakan para orientalis dengan menafikan metode-metode yang sudah tersedia dalam penafsiaran Al-Qur’an dalam Islam.

9 Munirul Ikhwan, Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman… Hlm. 13 – 14

10 مناع القطان، مباحث يف علوم القرآن، (القاهرة: مكتبة الوهبة، )1995، ص. 5

11 مناع القطان، مباحث يف علوم القرآن، (القاهرة: مكتبة الوهبة، )1995، ص. 316

12 يوسف القرضاوي، كيف نتعامل مع القرآن العظيم، (القاهرة: دار الشروق، )2000، ص. 215

  Ketika sudah memetakan jalan untuk menemukan dan memahami konteks, pembahasan mulai masuk ke tingkat menemukan makna yang terkandung dalam konteks tersebut. Dr. Munirul Ikhwan berpendapat bahwa alasan utama mengapa Al-Qur’an menjadi teks paling istimewa di dalam Islam adalah karena ia dipercaya sebagai kalam ilahi yang mempunyai konsekuensi teologis yang mengikat pada penganutnya. Namun beliau tidak berpendapat demikian, Al-Qur’an adalah konstruksi sosial; Al-Qur’an adalah produk budaya masyarakat Islam.13

  Pada hakikatnya Al-Qur’an bukanlah konstruksi sosial, melainkan adalah kalamullah. Syaikh Nuh Ali Salman Al-Qudah menyebutkan bahwa kalamullah berarti firman-firman Allah sejak dulu sudah ada pada Allah itu sendiri, namun lafadz dan huruf yang tertulis tidak bersifat lama, melainkan baru karena diwakilkan oleh bahasa arab ketika diturunkan.14 Dr. Yusuf Al- Qardhawi menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah kitabullah. Al-Qur’an secara keseluruhan berasal dari Allah, baik lafadz maupun makna. Al-Qur’an diwahyukan oleh Allah kepada Rasulnya melalui malaikat Jibril bukan melalui jalur wahyu yang lain.15 Dari dua pendapat ini dapat dipahami bahwa Al-Qur’an yang maknanya disandingkan kepada Allah memiliki nilai sakralitas yang tinggi dan bukan sama sekali produk konstruksi sosial seperti dikatakan sebelumnya.

  Di akhir pembahasannya Dr. Munirul Ikhwan memberikan satu contoh yang beliau pandang sebagai tanda ketidakselarasan Al-Qur’an dengan perkembangan zaman. Melalui metode telaah hermeneutika yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman (double movement) beliau mengumpamakan pada ayat yang berkaitan dengan pembebasan budak. Ia berpendapat bahwa penafsiran literal berimplikasi pada pelestarian perbudakan karena memerdekakan budak untuk penebusan kesalahan memerlukan ketersediakan budak. Sehingga dengan ketidakadaan budak saat ini mengakibatkan syari’at Islam tidak terlaksana sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an. Hal ini dapat dianalogikan pada zakat sebagai salah satu rukun Islam yang dibebankan kepada orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Penafsiran literal memunculkan pemahaman bahwa sejumlah orang harus tetap miskin agar orang kaya dapat memperoleh ridha Allah dengan membayar zakat karena menjalankan syari’at.16

13 Munirul Ikhwan, Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman… Hlm. 16

14 نوح علي سلمان القضاة، املخصر املفيد يف شرح جوهرة التوحيد، (عمان: دار الرازى، )1999، ص. 92

19 .ص ،)2000 الشروق، دار :القاهرة( العظيم، القرآن مع نتعامل كيف القرضاوي، يوسف 15 16 Munirul Ikhwan, Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman: Merekonstruksi Konteks dan Menemukan Makna, Jurnal Nun Vol. 2 No. 1, 2016, hlm. 19 – 20

  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari pernyataan beliau; pertama, penggunaan metode hermeneutika untuk menemukan makna dari ayat-ayat syari’at dirasa kurang tepat karena langsung menalar secara literal sebuah teks. Hal ini berimplikasi pada kecilnya cakupan makna yang didapat karena tidak meninjau sumber-sumber lain seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Kedua, karena menggunakan hermeneutika yang membatasi dalam memahami teks Al-Qur’an oleh sehingga makna zakat mengalami penyempitan dan hanya dimaknai sebatas memeberikan harta orang kaya terhadap orang miskin. Hal ini akan berbeda jika menafsirkan Al-Qur’an melalui metode tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an karena ada 8 golongan yang berhak menerima zakat selain orang miskin. Ketiga, jelas hasil akhir penjelasan dari metode yang digunakan dalam menafsirkan Al-Qur’an berbeda. Hermeneutika double movement yang digunakan Dr. Munirul Ikhwan mengartikan zakat mengharuskan sebagian orang untuk tetap miskin agar zakat dapat terus berjalan seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an, maka apabila sudah tidak ada lagi orang miskin di dunia ini, prinsip zakat sudah tidak wajib lagi dijalankan karena ketidakadaan orang miskin sebagai penerima zakat. Sederhananya, hal ini akan sangat berbeda jika menggunakan metode tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an karena memahami makna zakat bukan sekedar pemberian harta pada orang miskin saja melainkan juga kepada beberapa golongan selainnya, jika di dunia ini sudah tidak ada lagi orang miskin, zakat tetap berjalan sebagaimana yang telah disyari’atkan dan diberikan ke golongan penerima zakat lainnya.

Kesimpulan

  Isu dekonstruksi syari’ah sudah bukan menjadi isu yang dapat dianggap remeh karena kaitannya dengan perubahan pada kandungan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Dr. Munirul Ikhwan terkait tafsir Al-Qur’an dan perkembangan zaman merekonstruksi konteks dan menemukan makna Al-Qur’an dengan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah produk konstruksi sosial yang dilakukan oleh manusia. Hal ini terjadi karena melakukan penafsiran Al-Qur’an melalui salah satu metode hermeneutika double movement.

  Hal ini jelas sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah tafsir para ulama tafsir dalam meninjau syari’ah. Dengan melakukan hermeneutika double movement melalui pendekatan sosiologis untuk mengkaji syari’ah sangat rentan terjadi pada kesalahan karena tidak melibatkan Allah di dalam prosesnya. Abi Muhammad ‘Izuddin Abdul ‘Aziz bin Abdi as-Salam as-Silmi menyampaikan dalam kitabnya yang berjudul Qawaidu al-Ahkam fi Mashalihi al-Anam di bab fi

Bayani anna al-Asbab asy-Syari’iyata Bimatsabati al-Awqat bahwa tidak melibatkan Allah dalam proses hanya akan menimbulkan salah paham.17

   Dari pendapat beliau dapat disimpulkan bahwa orang yang paling serakah adalah untuk mengetahui apa yang Allah tidak berikan alasan untuk mengetahuinya, semakin mereka melihat ke dalamnya dan tertarik padanya, semakin banyak pula pengalaman dan kelalaian mereka. Wawasan tentang apa yang Allah sembunyikan darinya dan sembunyikan dengan ilusi serta kecurigaan. Keyakinan yang rusak adalah seberapa banyak keyakinan yang ditegaskan seseorang dan dilebih-lebihkan dalam penolakan terhadap apa yang bertentangan dengannya, kemudian kesalahan dan keburukannya menjadi jelas baginya setelah penegasan tentang kebenaran dan kebaikannya dari hal yang ia benci sebelumnya.

Daftar Pustaka

Derrida, J. (1981). Dissemination. London : The Athlone Press Ltd.

Hornby, A. S. (2000). Oxford Advanced Learner’s Dictionary. New York: Oxford University Press.

Ikhwan, M. (2016). Tafsir Al-Qur’an dan Perkembangan Zaman: Merekonstruksi Konteks dan Menemukan Makna. Nun Vol. 2 No.1 .

Ikhwan, M. (2021, Juli 6). Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Retrieved from Faculty Members: https://s.id/Profil_Dr_Munirul_Ikhwan_Dosen_Pascasarjana_UIN_Sunan_Kalijaga_Yog yakarta

Salim, F. (2010). Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal. Jakarta: Kelompok Gema Insani. Salim, F. (2013). Tafsir Sesat: 58 Essai Kritis Wacana Islam di Indonesia. Jakarta: Gema Insani.

الدريني, ف (2008). .بحوث مقارنة في الفقه اإلسالمي و أصوله .بيروت: للطبعة الرسالة.

السلمى, ا. م (1994). .قواعد األحكام في مصاح األنام .القاهرة: مكتبة الكليات األزهرية.

القضاة, ن. ع (1999). .المخصر المفيد في شرح جوهرة التوحيد .عمان : دار الرازي.

القطان, م (1995). .مباحث في علوم القرآن .القاهرة: مكتبة الوهبة.

17 ايب حممد عز الدين عبد العزيز بن عبد السالم السلمى، قواعد األحكام يف مصاحل األانم، (القاهرة: مكتبة الكليات األزهرية، )1994، ص. 19

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor