Dekontruksi Syari’ah : Tinjauan Kritis terhadap Teori Batas Kewarisan menurut Muhammad Syahrur

Sandiko Yudho Anggoro PKU XV / sdparadise1@gmail.com

  Kata syariah menjadi kata kunci bagaimana seharusnya kita bersikap. Dalam perjalannanya kata sering di singgungkan dengan kata pembaharuan dalam syariat. Bahkan kata pembaharuan (tajdid) dikampanyekan, dipasarkan, dan diperdebatkan oleh pemikir muslim. Tidak hanya pada tataran definisi maupun aplikasi tetapi sampai pada aspek hukum yang telah pasti seperti ilmu waris. Sebenarnya, ilmu waris merupakan salah satu ilmu yang penting kaitannya dengan perubahan hak milik harta. Tetapi, seakan umat melupakan ilmu ini seiring berkembangnya zaman.

  Hal ini mendorong tokoh-tokoh yang mana meyuarakan pembaharun syariah. Salah satunya adalah Muhammad Syahrur. Menurutnya ketentuan bagian waris antara laki-laki dan perempuan dengan perbandingan 2:1 untuk masa sekarang dianggap belum memberikan bagian yang setara dan belum mencerminkan nilai keadilan. Untuk meluruskan anggapan tersebut makalah ini akan mengkritisi teori Muhammad syahrur dalam ilmu waris.

Biografi Singkat Muhammad Syahrur

  Muhammad Syahrur lahir di Damaskus, Syiria tanggal 11 april 1938.[1] Dia merupakan seorang pemikir fenomenal dalam dunia Islam kontemporer. Background Syahrur merupakan seorang ahli ilmu alam khususnya matematika dan fisika,[2] tidak seperti kebanyakan para pemikir Islam yang umumnya memang berasal dari seting keagamaan. Fase pemikiran Muhammad Syahrur bermula saat Syahrur mengambil jenjang Magister dan Doktor dalam bidang teknik sipil di Universitas Nasional Irlandia, Dublin. Di masa inilah Muhammad Syahrur bersentuhan dengan pemikiran Hegel dan Marxisme.[3] Sehingga dengan apa yang telah ia pelajari sedikit banyak mempengaruhi penafsirannya terhadap ayat-ayat al-Quran sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya.

Teori batas kewarisan Muhammad Shahrur

  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan hal kewarisan. Pertama, ilmu warisan telah dijelaskan dalam ayat-ayat Alquran. Kedua, konsep ini telah diterapkan oleh masyarakat muslim sejak ayat ini turun di zaman Rasul.[4] Tetapi dengan berjalannya waktu menurut Syahrur saat ini fikih waris yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mengandung berbagai problem yang diantaranya adalah sebagai berikut :[5]

  1. Firman Allah: fa in kunna nisa’an fawqa ithnataini dipahami dengan pengertian: “jika kalian (perempuan) berjumlah dua atau lebih”. Padahal ayat tersebut tidak bisa dipahami dengan pengertian yang tidak masuk akal tersebut.
  2. Istilah “al-walad” dalam ayat-ayat waris dipahami sebagai anak laki- laki yang menjadi sebab terhalang dan tertutupnya suatu pewarisan pada pihak lain. Pemahaman semacam ini merupakan reduksi besar-besaran terhadap firman Allah: Yushikumullah fi Awladikum li al-zakari misl hazz al-unsayain, karena dalam ayat ini terma al- walad mencakup kedua jenis kelamin baik lelaki maupun perempuan.
  3. Mempertahankan konsep ‘awl (menggenapkan prosentase ke atas) dan radd (menggenapkan prosentase ke bawah), dua konsep yang terlahir dari pemaksaan terhadap pemberlakuan empat pola perhitungan (‘amaliyat al-hisab al- arba’) sehingga mengakibatkan beberapa pihak menerima harta waris secara berlebihan, sementara pihak lain dikurangi haknya secara tidak adil.
  4. Para cucu meskipun yatim, tidak diperbolehkan menerima bagian warisan dari kakek mereka, dengan keadaan mereka sebelumnya telah ditinggal mati bapaknya, meskipun cucu tersebut juga disebut dalam ayat waris.
  5. Memberikan bagian tertentu kepada pihak yang sama sekali tidak disebut dalam ayat-ayat waris, seperti paman (dari pihak bapak) dn sebagainya.

  Dari lima poin tersebut seakan fiqih waris mengalami kerancuan dan menjadikan fiqih waris sulit dipahami dan tidak memiliki rujukan yang jelas (hanya menganut dogma dari turos). Padahal ilmu waris ini menyentuh titik rawan, yaitu problematika perpindahan harta antar generasi. Dari sini Muhammad Syahrur menyeru untuk melakukan pembacaan ulang terhadap ayat-ayat waris.

  Dalam permasalahan yang ini Muhammad Syahrur mengkontruksikan suatu teori yaitu teori batas (the theory of limits),[6] yaitu teori sains dalam matematika yang oleh Syahrur dimasukan dalam penafsiran Alquran. Teori ini tidak familier dalam dunia tafsir, sebab pada umumnya para mufassir klasik ketika menafsirkan Alquran hanya menggunakan perangkat ilmu yang lazim dalam dunia tafsir, seperti riwayat, ilmu ashab nuzul, munasabah, nasikh mansukh dan kaidah kebahasaan. Sedangkan perangkat ilmu modern jelas belum dimasukkan.[7] Keterbatasan dan kekurangan tersebut ingin ditambah oleh Syahrur dalam rangka mengembangkan pemikiran tafsir di era kontemporer, melalui tawaran teori batas (hudud). Syahrur membedakan dua variabel yaitu X dan Y dengan satu variabel mempengaruhi variabel yang lain. Dalam hal ini ia membedakan antara istiqomah dan hanafiyyah seperti pada gambar di bawah : 

  Dalam kurva diatas kaitannya dengan metode ijtihad. Wilayah ijtihad sebenarnya berada pada kurva tersebut, dimana sumbu X menggambarkan zaman konteks waktu dan sejarah, sedangkan sumbu Y sebagai undang-undang yang ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, dinamika ijtihad sesungguhnya berada dalam wilayah kurva (hanafiyyah), ia bergerak sejalan dengan sumbu X. Hanya saja gerak dinamis itu tetap dibatasi dengan hududullah, yakni sumbu Y (kurva istiqamah). Dari sini di hasilkan beberapa kesimpulan salah satunya teori batas maksimal dan minimal. Dimana daerah hasilnya berupa kurva gelombang yang memiliki sebuah titik balik maksimum dan minimum. Kedua titik balik tersebut terletak terhimpit pada garis lurus sejajar dengan sumbu X. inilah yang disebut dengan fungsi trigonometri.[8] Seperti pada gambar di bawah :

  Dalam hal ini, penetapan hukum ditetapkan diantara kedua batas tersebut dan hukum waris bisa di terapkan dalam kurva ini. Muhammad Syahrur berargumen, bahwa sebuah penetapan batasan maksimum untuk anak laki-laki dan batasan minimum untuk anak perempuan. Konkritnya, jika beban ekonomi keluarga sepenuhnya atau 100% ditanggung pihak laki-laki, sedangkan pihak perempuan sama sekali tidak terlibat atau 0%, dalam kondisi ini, batasan hukum Allah dapat diterapkan yaitu 66,6% : 33,3%. Dalam hukum waris Syahrur menyimbolkan laki-laki dengan (y) sebagai variabel pengikut dan perempuan dengan simbol (x) sebagai variabel pengubah. Maka bisa saja wanita mendapatkan lebih dari 33,3%, misal jika menangung ekonomi keluarga.

  Menurut Syahrur, hukum tidak harus diperlakukan sebagai pemberlakuan secara literal teks-teks yang sudah diturunkan berabad-abad lalu pada dunia modern. Jika aplikasi semacam ini diterima, dapat dipastikan Islam akan kehilangan karakter keluwesan dan fleksibilitasnya.[9] Misalnya dalam kasus perempuan sebagai tulang punggung keluarga apakah perbandingna akan tetap dua banding, tentu hal ini tidak bisa dilakukan. Maka teori sharur tentang pembagian ini bisa berubah sesuai dengan keadaan dan kondisi.

Kritik Atas Pemikiran Muhammad Shahrur

  Dalam Alquran disebutkan “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan” An-nisa;7. Dan dalam Hadis disebutkan Dari ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasulullah bersabda; “Berikanlah hak waris yang telah ditentukan itu kepada pemiliknya, adapun sisanya bagi ahli waris laki-laki yang paling dekat nasabnya.” Muttafaqu Alaih.[10]

  Paradigma, mindset atau cara pandang masyarakat tentang ilmu faroid adalah bagi harta, padahal bukan itu intinya. Syekh Solih Fauzan menjelaskan banyak makna dalam menjelaskan pengertian ilmu faroid tetapi yang dirasa paling tepat menurut beliau adalah ilmu yang menjelaskan siapa yang berhak mendapatkan waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkan waris serta penentuan kuantitas atau takaran setiap ahli waris.[11]

  Dari penjelasan di atas dapat di artikan bahwasannya ilmu faroid merupakan penentuan hak bagi ahli waris yang hasilnya adalah pembagian atau penyerahan warisan, sedang hukum mempelajarinya adalah fardu kifayah. Ustadz Jabal alamsyah juga sering mengatakan bahwasannya faroid adalah penentuan sebelum pembagian. Paham faroid sebagai bagi harta inilah yang juga menjadi dasar pemikiran syahrur.

  Pewarisan menurut Muhammad Syahrur adalah pemindahan harta yang dimiliki seseorang yang sudah meninggal kepada pihak penerima dengan jumlah dan ukuran bagian (nasb) yang diterimanya telah ditentukan dalam mekanisme wasiat, atau jika tidak ada wasiat, maka penentuan pihak penerima, jumlah dan ukuran bagiannya (hazz) ditentukan dalam mekanisme pembagian warisan.[12]

  Karena Syahrur kurang tepat dalam memaknai faroid ditmambah dia merasa bahwa butuh adanya pembaharuan hukum maka terbentuklah beberapa hal yang menjadi dasar kerancuan dalam mengkaji ilmu faroid seperti yang kita bahas di bab sebelumnya. Pertama, syahrur mengungkapkan bahwa pengartian makna fa in kunna nisa’an fawqa ithnataini adalah kesalahan. Padahal dalam tafsir ibnu katsir telah dijelaskan arti kata fauqo adalah taqdir wa zaaidah[13] dan maknanya menjadi masuk akal yaitu “maka jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya dua atau lebih”. Kedua, dia mengatakan bahwa kata walad mengandung kata laki dan perempuan, ini di dasari dari firman Allah yushikumullah fi Awladikum. Dan dalam bahasa arab memang ada beberapa kalimat yang bermakna laki dan perempuan tetapi shahrur kiranya lupa menjelaskan bahwasannya bentuk jama dalam kalimat arab selalu menggunakan kalimat mudzakar. Misal jika di kelas ada murid laki dan perempuan maka di sebut talamidz bukan tilmiidzat.

  Ketiga,masalah awl dan radd, yang mendasari nalar shahrur dalam masalah ini adalah hukum ini baru muncul di zaman khalifah umar. Sebenarnya hukum Allah itu tidak ada yang tertinggal atau luput dari penetapannya. Semua benar dan telah tertulis dalam Alquran. Namun mengingat bahwa landasan hukum islam itu ada Alquran, Sunnah, Ijma, dan Kias penetapan hukum pembagian waris awl dan radd ini pun hasil aplikasi dari hukum waris yang sudah ada di Alquran, yang dijabarkan lebih luas lagi oleh para sahabat. Secara historis memang ketika itu para sahabat berijma dan khalifah umar memutuskan hukum awl dan radd sebaga ijma sahabat.[14] Jadi bukan berarti kita terpasksa merujuk kepada awl dan radd, akan tetapi awl dan radd adalah hasil dari aplikasi hukum waris yang ada di Alquran.

  Keempat, cucu yang tidak mendapatkan waris dari kakek padahal dia telah yatim. Dari sini yang di bahas Shahrur adalah cucu yang terhalang anak perempuan. Kembali ke konsep awal yaitu faroid adalah penentuan sebelum pembagian. Jadi ditentukan dulu ahli warisnya, kemudian jika sudah di tentukan dan didapatkan haknya maka pembagian selanjutnya terserah pemilik harta, dan itu hukumnya adalah hadiah.[15] Kelima, memberikan hak kepada pihak yang tidak di sebutkan dalam nsah, dalam hal ini adalah paman. Padahal jelas paman dari pihak ayah berha menjadi wali maka ia juga wajib atas nafkah jika ayah dan sadudara laki laki tidak ada, termasuk mendapat waris jika tidak ada pihka yang mengahalangi.

Penutup

  Konsep teori batas waris Muhammad Syahrur adalah laki-laki sebagai batas maksimal dan perempuan sebagai batas minimal. Bagian wanita tidak pernah kurang dari 33,3%, sementara bagian laki-laki tidak pernah lebih dari 66,6% dari harta warisan. Batas ini berlaku ketika perempuan sama sekali tidak terlibat dalam mencari nafkah bagi keluarga, ketika perempuan ikut mencari bafkah maka prosentasenya bisa bertambah.[16] Misal diberi 40% dan laki-laki 60%, pembagian ini tidak dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap batas maksimum dan minimum karena tidak melebihi koridor atau batasan-batasan hukum Allah.

  Sebenarnya pendapat Shahrur sendiri dirasa kurang tepat. Pertama, dia menganggap waris ini bagi harta sehingga dia membuat teori batas. Kedua, teori perbandingan laki dan perempuan dirasa kurang tepat karena perempuan terkadang juga ambil bagian dari mencari nafkah. Yang kurang dipahami oleh Shahrur adalah bahwa tanggung jawab laki laki adalah memberi nafkah bagi keluarga dan itu wajib, disamping itu dia juga bertanggung jawab pada ibu dan saudarinya.[17] Sedangkan peempuan tidak ada tanggung jawab seperti laki laki, bahkan dia harus diberi nafakah.

Daftar Pustaka

ابن فوزان، صالح. التحقيقات المرضية في المباحث الفرضية. مكتبة الهدي المحمدي

تفسير ابن كثير. بيان الأية. قال بعض الناس قوله “فوق” زائدة و تقديره

شحرور، محمد. نحو أصول جديدة للفقه الإسلامي فقه المرأة الوصية-الإرث-القوامة-التعددية-الحجاب. الأهالي للطباعة و النشر و التوزيع

على الصابوني، محمد. المواريث في الشريعة الإسلامية في ضوء الكتاب و السنة. المكتبة التوفيقية دار الصبوني

Alamsyah, Jabal. Sumber utama pensyariatan al mawarits, Majelis al mawaris

Alamsyah, Jabal. Tafsir ayat ayat waris, Majelis al mawaris

Asmara, Musda dkk. Teori Batas Kewarisan Muhammad Syahrur dan Relevansinya dengan Keadaan Sosial. 2020. Jurnal Hukum dan Syar’iah: vol 12 no 1

Biografi Muhammad Syahrur. السيرة الذاتية. shahrour.org

Muslihin, 2019. artikel biografi muhammad syahrur. referensimakalah.com

Mustaqim, Abdul. Teori Hudûd Muhammad Syahrur dan kontribusinya dalam penafsiran al-Qur’an. Jurnal Studi Alquran dan Hadis

Syahrur, Muhammad. Prinsip dan dasar hermeneutika al-Quran kontemporer

Shahrur, Muhammad. Nahw Usul Jadidah Li al-Fiqh al-Islami, Terj. Metodologi Fiqih Islam Kontemporer oleh Sahiron Syamsudin dan Burhanudin. Yogyakarta: eLSAQ press

Shahrur, Muhammad. al Kitab wa al Quran : Qiraah Mu’ashirah, Terj, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Hukum Islam oleh Sahiron Syamsuddin. 2018. Yogyakata: KALIMEDIA

  1. Biografi Muhammad Syahrur, السيرة الذاتية, shahrour.org

  2. Ibid

  3. Muslihin, artikel biografi muhammad syahrur, september 03 2019, referensimakalah.com

  4. محمد على الصابوني، المواريث في الشريعة الإسلامية في ضوء الكتاب و السنة، المكتبة التوفيقية دار الصبوني، 17

  5. محمد شحرور، نحو أصول جديدة للفقه الإسلامي فقه المرأة (الوصية-الإرث-القوامة-التعددية-الحجاب)، الأهالي للطباعة و النشر و التوزيع، 222-223

  6. محمد شحرور، مرجع السابق، 248-249

  7. Abdul Mustaqim, Teori Hudûd Muhammad Syahrur dan kontribusinya dalam penafsiran al-Qur’an, ( AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis 1), 1.

  8. Musda Asmara dkk, Teori Batas Kewarisan Muhammad Syahrur dan Relevansinya dengan Keadaan Sosial, (De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah; vol 12,no 1, 2020), 27.

  9. Muhammad Syahrur, Prinsip dan dasar hermeneutika al-Quran kontemporer, 8.

  10. Jabal Alamsyah, Sumber utama pensyariatan al mawarits, Majelis al mawaris

  11. صالح بن فوزان، التحقيقات المرضية في المباحث الفرضية، مكتبة الهدي المحمدي، 11-12

  12. Muhammad Shahrur, Nahw Usul Jadidah Li al-Fiqh al-Islami, Terj. Metodologi Fiqih Islam Kontemporer oleh Sahiron Syamsudin dan Burhanudin, (Yogyakarta: eLSAQ press), 334

  13. تفسير ابن كثير، بيان الأية، قال بعض الناس قوله “فوق” زائدة و تقديره

  14. محمد على الصابوني، مرجع السابق، 97-98

  15. Jabal alamsyah, Tafsir ayat ayat waris, majelis al mawaris

  16. Muhammad Sharur, al Kitab wa al Quran : Qiraah Mu’ashirah, Terj, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Hukum Islam oleh Sahiron Syamsuddin , (KALIMEDIA, Yogyakata: 2018), 241

  17. محمد على الصابوني، مرجع السابق، 14

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor