Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer Menurut Syed Naquib Al-Attas

Rizky Dwisaputra Said

Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Menurut Syed Naquib Al-Attas

Biografi Syed Naquib Al-Attas

Pengalaman kehidupan keilmuan al-Attas dapat dibagi dua bagian utama. Pertama, kultur pendidikan tradisional Islam. Kedua, kultur pendidikan modern Barat. Kultur tradisionalisme bermula dari pengalaman dan latar belakang keluarga. Dari segi nasab al-Attas memiliki darah keturunan ulama besar dan pejabat kerajaan. Al-Attas lahir di Bogor 5 September 1931 dari keluarga ulama habaib dengan tradisi tariqah Ba’alawi[1] yang kuat.

Pendidikan dasar Islamnya ditempuh di Madrasah Al-‘Urwah al-Wustho Sukabumi sejak tahun 1941-1945, lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Al- Attas mempelajari bahasa Arab, kitab-kitab turats dan dasar-dasar keilmuan Islam di madrasah ini. Pada tahun 1946 al-Attas kembali ke Johor Malaysia untuk menempuh pendidikan formalnya di Bukit Zahra School kemudian berlanjut di English School tahun 1946-1951. Selama di Johor Malaysia, Al-Attas tinggal bersama Ungku Abdul Aziz bin Ungku Abdul Majid, anak saudara Sultan yang pernah menjadi Menteri Besar Johor Modern.[2]

Sejarah pendidikannya dimulai sejak Ia masih berumur 5 tahun sampai akhirnya Ia menjadi seorang ilmuwan yang memiliki berbagai karya-karya. Yang jumlahnya mencapai sekitar 22 buku dan 30 lebih makalah ilmiah. Secara global dapat diklasifikasikan, yaitu karya-karya yang berkaitan tentang kesarjanaan (scholarly writing), pemikiran, pendidikan, dan lain-lain. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi dan mengajar sebagai dosen tetap di Univesitas Malaya serta berbagai jabatan. Salah satunya pada tahun 1968-1970 Ia menjabat sebagai ketua Departemen Kesusasteraan dalam pengkajian melayu dan pada tahun 1970-1973 Ia menjabat dekan fakultas sastra dan lain sebagainya.[3]

Ditahun 1987, Al-Attas mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Melalui institusi ini Al-Attas bersama sejumlah kolega dan mahasiswanya melakukan kajian dan penelitian mengenai Pemikiran dan Peradaban Islam, serta memberikan respon yang kritis terhadap Peradaban Barat.

Latar Belakang Lahirnya Islamisasi Ilmu Pengetahuan kotemporer

Gagasan awal muncul pada saat konferensi dunia pertama tentang pendidikan Islam, yaitu pada tahun 1977 yang diprakarsai oleh King Abdul Aziz University di Makkah Arab Saudi. Menurut al-Attas bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam adalah tantangan ilmu pengetahuan sekuler yang disebarkan keseluruh dunia Islam oleh Barat. Sedangkan al-Faruqi berpendapat bahwa sistem pendidikan Islam telah terkontaminasi oleh karikatur paham sekuler Barat, dimana sains telah terlepas dari nilai dan harkat manusia dan nilai spiritual.

Bagi al-Faruqi, pendekatan yang dipakai dengan jalan mengislamisasikan sains barat kedalam kerangka khazanah Islam, yaitu menuliskan kembali buku-buku teks dan berbagai disiplin ilmu dengan wawasan ajaran Islam. Sedangkan menurut al-Attas Islamisasi harus dibersihkan dari unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, kemudian merumuskan dan memadukan unsur Islam yang esensial dan konsep-konsep kunci sehingga menghasilkan komposisi serta membentuk suatu nilai yang didalamnya terdapat nilai keislaman.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer berarti mengislamkan atau melakukan penyucian terhadap sains produk Barat yang selama ini dikembangkan dan dijadikan acuan dalam wacana pengembangan sistem pendidikan Islam agar diperoleh sains yang bercorak “khas Islami”. Sains yang Islami harus meliputi iman, kebaikan dan keadilan, baik sebagai individu dan sosial, itu artinya sains yang berdasarkan keimanan dengan tujuan kemaslahatan ummat manusia.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer mewujudkan kemajuan peradaban yang Islami dan juga tidak menghendaki terpuruknya kondisi umat Islam di tengah-tengah akselerasi perkembangan kemajuan iptek. Dengan usaha gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer ini diharapkan problem dikotomi ilmu dapat dipadukan dan dapat diberikan secara integral dalam proses pendidikan.

Pemikiran Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer menurut Syed Naquib Al-Attas

Islamisasi Ilmu Pengetahuan tidak lain adalah Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer atau Islamisasi Ilmu Modern. Yang demikian karena ilmu kontemporer dan modernlah yang dianggap telah mengalami sekularisasi, karna ilmu-ilmu tersebut ditemukan dan dikembangkan oleh peradaban barat. Tidak benar jika dikatakan bahwa ilmu-ilmu tersebut dijamin universal dan bebas nilai. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendefinisikan ilmu sebagai sebuah makna yang datang ke dalam jiwa bersamaan dengan datangnya jiwa kepada makna dan menghasilkan hasrat serta kehendak diri..

Berdasarkan pernyataan Al-Attas ini menunjukkan bahwa Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer diharapkan bisa membebaskan kaum Muslim dari paham sekularisme. Oleh karena itu Al-Attas berfikir bagaimana agar bisa mengembalikan kejayaan islam dan mengembalikan cara pandang worldview ummat islam kepada fitrahnya.[4] Fitrah disini diartikan sebagai pemusatan ilmu pengetahuan yang berkembang ataupun yang sudah ada kembali pada peradaban Islam. Lebih spesifiknya, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer adalah program epistemologi dalam rangka membangun peradaban islam yang lebih gemilang.

Menurut Al-Attas tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer untuk melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar dan menyesatkan, Dan Minghilangkan konsep dikatomi ilmu yang berakibat pada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, karena pada hakekatnya ilmu bersumber dari Allah SWT, dengan demikian, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer ini akan memberi dampak positif bagi keamanan dan keadilan bagi umat manusia.

  1. Novel bin Muhammad Alaydrus, Jalan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi, (Solo: Taman Ilmu, T.Th), 22. Lihat juga Kholili Hasib, “Mazhab Akidah dan Sejarah Perkembangan Tasawuf Ba’alawi”, dalam Kalimah, Vol. 15 No. 1, (Ponorogo: Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor, 2017), 20.

  2. Wan Mohd Nor Wan Daud,Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas Satu Huraian Konsep Asli Islamisasi, (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaysia, 2014), 1

  3. Pidatonya tersebut telah diterbitkan di Indonesia, lihat Syed M. al-Naquib al-Attas, Islam dalam sejarah dan kebudayaan melayu, (Bandung:Mizan, 1990).

  4. Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, 341.

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor