Kajian CIOS Weekly Discussion Perdana, Latihan Awal Peserta PKU Mendakwahkan Nilai-nilai Agama

Rabu, 14Juli 2021

Pada Rabu malam tanggal 14 Juli, Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) mengadakan kembali kegiatan CIOS Weekly Discussion di Aula Hotel Universitas Darusalam Gontor. Kegiatan yang dimulai dari pukul 20.00 WIB ini merupakan kajian CIOS yang diisi oleh peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU). Pada kajian perdana ini, yang direkomendasikan oleh mentor PKU untuk menjadi pemateri adalah Ustadz Rd Adityawarman, S.Sos dan Ustadz Sandhiko Yudho Anggoro, S.E. Keduanya merupakan peserta PKU angkatan ke-XV. Acara yang dihadiri seratus peserta online ini dipandu oleh Ustadz Ahmad Rizqon yang bertugas selaku moderator acara.

            Kajian ini merupakan wadah bagi para peserta PKU untuk melatih kemampuan kritis mereka dalam menghadapi tantangan pemikiran kontemporer. Sekaligus untuk menguatkan kemampuan berargumentasi mereka atas kritikan orang yang berpaham sekuler-liberal yang berusaha meruntuhkan Islam. Dengan kajian ini, diharapkan peserta PKU kedepannya mampu berdakwah dan menyebarkan konsep-konsep Islam yang benar kepada masyarakat luas.

            Pada kajian perdana ini, kedua pemateri membahas tema yang sama, Dekonstruksi Syari’ah. Adapun judul yang diangkat oleh Ustadz Adityawarman, selaku pemateri pertama adalah “Tinjauan Kritis Terhadap Tafsir al-Qur’an berbasis Hermeneutika”. Pembahasan ini dilatarbelakangi oleh menjamurnya ide dan usulan untuk melakukan pembacaan dan pemaknaan ulang atas teks-teks primer agama Islam yang bertujuan untuk menundukkan teks-teks Al-Qur’an agar dapat sesuai dengan nilai-nilai modernitas sekuler. “Dekonstruksi bertujuan menyelami epistimologi, cara pandang, konsep, dan pembenaran untuk membongkar dan meruntuhkan apa yang sudah dibangun, yang dalam hal ini adalah syari’at. Dan syari’ah adalah aturan yang dibuat oleh Allah guna menertibkan segala lini kehidupan manusia, way of life”, ujar pemateri saat mengawali kajiannya.

            Untuk menemukan makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an, maka metode yang tepat untuk digunakan adalah tafsir dan ta’wil. Kedua metode tode ini sangat tidak tepat jika diganti dengan penafsiran hermeneutika, yang diantaranya dengan pendekatan sosiologis dan antropologis, sebagaimana yang diterapkan para orientalis dalam mengkaji isi kitab suci Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan penafsiran hermeneutika bersifat literal. Sehingga sangat tidak sesuai dipakai untuk menafsirkan isi Al-Qur’an.

Untuk mengunduh PPT materi, klik link berikut:

https://drive.google.com/file/d/1mBCkuRPCtvPRSWrPxqUOAf_uQ8t6t7Tz/view?usp=sharing

            Meskipun memiliki latar belakang pembahasan yang sama, yakni ide pemaknaan ulang atas Al-Qur’an dan Hadits, pemateri kedua mengkhususkan pembahasan kepada kajian tokoh dengan judul ” Tinjauan Kritis terhadap Teori Batas Kewarisan Muhammad Syahrur”. Muhammad Syahrur merupakan tokoh pemikir fenomenal kelahiran Damaskus yang menganut paham Barat. Ia banyak mengkritik syari’at Islam dan menganggapnya sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Diantara bentuk kritikannya adalah teori batas (the theory of limits), yaitu teori sains dalam matematika yang oleh Syahrur dimasukan dalam penafsiran Alquran. Teori ini tidak familier dalam dunia tafsir, sebab pada umumnya para mufassir klasik ketika menafsirkan Alquran hanya menggunakan perangkat ilmu yang lazim dalam dunia tafsir, seperti riwayat, ilmu ashab nuzul, munasabah, nasikh-mansukh, dan sebagainya.

            Diantara kerancuan pemikiran Syahrur adalah menganggap metode dua banding satu untuk ahli waris laki-laki dan perempuan dalam ilmu waris sudah tidak relevan. Dikarenakan saat ini sudah banyak wanita yang ikut menopang kehidupan rumah tangga. Selain itu ia menganggap kata al-walad hanya diartikan sebagai anak laki-laki dan memiliki pemahaman yang kurang tepat ayat-ayat tentang waris. Hal ini dikarenakan pemahaman nya yang kurang tepat tentang makna faroid. Baginya, faroid adalah ilmu tentang bagi harta. Padahal ia adalah ilmu yang menjelaskan siapa yang berhak mendapatkan waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkan waris serta penentuan kuantitas atau takaran setiap ahli waris. Adapun pembagian harta warisan dilakukan setelah penentuan jumlah warisan yang diterima ahli waris.

Untuk pengunduhan PPT materi, klik link berikut ini:

https://drive.google.com/file/d/1w0RwA9JuIJaWDXq2xrjBacpxEBEhOtyl/view?usp=sharing

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor