Kerancuan Teori Psikoanalisis Sigmund Freud

Oleh:Haiqal Kahfi

  Sigmund Freud adalah seorang ahli Psikologi Jerman keturunan Yahudi yang dilahirkan pada 6 Mei 1856 di kota Freiberg (sekarang Pribor,Ceko) dan meninggal pada tahun 23 September 1939 di Inggris, London ketika pasukan Nazi melakukan pembantaian kaum Yahudi. Disaat berumur empat tahun Freud dan keluarganya pindah ke Wina dan menetap selama 80 tahun. Ketertarikannya tentang Neurologi membuat Freud belajar di Universitas Wina dengan mengambil ilmu kedokteran. Semasa kuliah, Frued mulai mempelajari tentang Neurologi yang mendorong untuk merawat orang-orang mengidap gangguan syaraf untuk mengasah keahliannya dibidang ini . Setelah lulus, Freud mempertinggi kecakapan ilmunya dengan bekerja di salah satu Laboratorium Profesor Brueckle, ia seorang ahli ternama dalam bidang Fisiologi di rumah sakit umum Wina. Selama menjadi dokter, ia memusatkan perhatiannya pada anatomi otak dengan penelitian tentang kokain, sejenis obat bius. Di tahun 1886, Frued kemudian menikah dengan Martha Bernays dan membuka praktek spesialis saraf karena kekurangan ekonomi. Pada masa itu juga dia mulai meneruskan penelitiannya setelah berkunjung ke Berlin, dengan menulis beberapa karangan tentang cacat otak pada anak-anak. Lama kelamaan perhatianya bergeser dari Neurologi ke Psikopatologi. Sekitar tahun 1888 Frued bekerja sama dengan Josef Bruer yang seorang dokter di Wina sehingga ia melanjutkan penelitian yang sempat berhenti.

  Pada tahun 1895, Freud dan Bruer mempublikasikan satu tulisan dengan judul “Studies On Hysteria” yang dipandang sebagai permulaan dari teori Psikoanalisis Dalam penelitiann ini, Frued mendapatkan bahwa impian dari pasiennya dapat memberikan sumber mengenai emotional material yang bermakna. Freud kemudian mempublikasikan buku yang kedua “The Interpretation Of Dreams”yang diterbitkan pada tahun 1900 dan merupakan sebagai mahakarya Freud. Semasa hidup Freud, buku tersebut telah keluar delapan edisi. Setelah itu Freud juga mempublikasikan bukunya “The Psychopathology Of Everyday Life” yang sekarang dikenal dengan Freduian slip. menurut Freud dalam kehidupan sehari-hari baik orang normal maupun orang Neurotik atau orang dalam keadaan tidak sadar (unconscious ideas) bergelut untuk mengekpresikan dan dapat memodifikasikan pemikiran ataupun perilaku yang terlihat pada slips of the tounge. Buku lain dari Freud adalah “Three Essays on the Theory of Sexuality” yang diterbitkan pada tahun 1905.

Psikoanalisis:Teori dan Pandangan

  Pada tahun 1896, Frued menemukan teori Psikoanalisis, istilah ini diciptakan olehnya. Teori ini lahir berdasarkan pengalamannya dalam praktek menangani pasiennya yang mengidap histeria. Penemuan ini dilatar belakangi juga oleh metode yang digunakan oleh Bruce Bruer menggunakan teknik Hypnosis atau disebut Katarsis untuk digunakan dalam menangani pasien yang mengidap Neurosis; orang yang mengalami gangguan jiwa yang berhubungan dengan Psikologi. Namun metode ini tidak mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga teknik ini dikembangkan Frued menjadi Asosiasi Bebas (free association) yang menjadi cikal bakal teknik dasar Psikoanalisis. Terciptanya teknik ini bertujuan membawa ke tingkat kesadaran mengenai ingatan atau pikiran-pikiran yang ditekan dan merupakan sumber dari prilaku tidak normal pasien. Pasien harus meninggalkan setiap sikap kritis terhadap fakta-fakta yang disadari dan mengatakan apa saja yang timbul dalam pemikirannya. Freud berkeyakinan bahwa hidup Psikis sama sekali determinasi dalam arti bahwa tidak ada satupun yang kebetulan atau sembarangan. Oleh karena itu asalkan si pasien jujur dan si ahli psikoanalisis tidak terganggu maka akan menemukan sebab-musabanya. Hal ini membuat Frued berusaha memahami jiwa dalam pandangannya yang merupakan sumber prilaku manusia.

  Dalam memahami jiwa seorang pasien Neurosis, mulanya Frued berpendapat bahwa kehidupan Psikis(jiwa) mengandung dua bagian, yaitu Kesadaran (the conscious) dan Ketidaksadaran (the uncoucious). Freud juga mengemukakan pendapat mengenai Prakesadaran (preconscious atau foreconscious). Tidak seperti Ketidaksadaran, maka dalam preconscious materinya belum direpres, sehingga materinya dapat mudah ditimbulkan dalam kesadaran. Tetapi hal ini hanyalah dasar dari Jiwa menurut Psikoanalisis yang belum bisa memahami jiwa manusia sepenuhnya.

  Kemudian Freud merevisi dan mengintroduksi (mengenalkan) dasar teorinya yang kemudian terbagi menjadi tiga unsur pokok dalam memahami jiwa berdasarkan Psikoanalisis yaitu: Pertama, Das Es (the id): aspek biologis yang secara alami telah ada sejak lahiriyah maupun bathiniyah.Kedua, Das Ich (the ego): aspek psikologis yang merupakan diri kita sebagai pengendali dan penengah ID dan Super ego. Ketiga,Das Ueber Ich (The super Ego): aspek sosiologis yang merupakan hasil dari pengalaman; pendidikan, budaya, norma masyarakat, dll. Tiga unsur pokok tersebut mempunyai unsur masing-masing dalam hal fungsi ,sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri. Namun ketiganya berhubungan dengan erat sehingga sukar bahkan hampir tidak mungkin dipisahkan pengaruhnya terhadap tingkah yang selalu memiliki hasil yang sama dari ketiga aspek tersebut.

Pro Dan Kontra Teori Psikoanalisis

  Walaupun beberapa ilmuwan tertarik dan pro terhadap teori Frued seperti Alfred Adlcr dan Cari Jung, tetapi hal ini pun juga menimbulkan kontroversi banyak pihak aliran psikologi lain maupun organisasi keilmuwan. Tetapi Frued tidak melarikan diri dari pertentangan tersebut dan membalasnya dengan buku-buku yang dikeluarkan semasa hidupnya. Salah satunya yaitu H. J.Eyesenck seorang Psikologi aliran Behaviorisme asal Jerman berpendapat bahwa tidak logis jika Psikoanalisis diberikan predikat ilmiah yang tidak memiliki unsur dan sifat Behavioristik. Psikoanalisis juga ditentang oleh kaum Feminis yang menegaskan bahwa Freud memandang seksualitas pada umumnya, hanya dengan seksualitas laki-laki saja dan seksualitas perempuan merupakan suatu hal yang tidak lengkap. Sampai sekarang pun Psikoanalisis juga menuai kontroversi meski tidak sekeras sebelumnya. Kritik ini pun semakin diperjelas oleh banyaknya bukti-bukti logis yang dibuktikan oleh ilmuwan barat sendiri maupun islam.

  Bukti-bukti logis tersebut, telah dibuktikan oleh banyak ilmuwan barat lewat penelitian dan pengalaman mereka terutama di konsep yang tidak jelas dan sulit didefinisikan seperti Cathexis, Libido, dan Id. Para ilmuwan menyatakan bahwa hal tersebut tidak bisa dibuktikan dengan observasi, yang berarti tidak ilmiah seperti halnya bayi yang tidak bisa bicara kemudian kita bertanya tentang kenikmatan seksualnya. Sedangkan hal lain tentang peran ayah yang menurut Frankl bahwa tidak ada hubungan munculnya bayangan positif atau negative tentang ayah dan juga hubungannya dengan Agama dan Tuhan. Dalam menanggapi teori ini, Ilmuwan Islam memberikan dua Respon yang berbeda.

  Untuk menanggapi psikoanlisis, terdapat pro dan kontra diantara para Ilmuwan Islam. Mustafa Zewar merupakan seorang ilmuwan muslim yang pro dengan Psikoanalisis. Menurutnya usaha dalam mengadakan pemahaman terhadap Psikologi Agama terjadi pada abad-19. Maka dalam memahaminya, perlu diadakan penelitian mendalam terhadap jiwa manusia atau dalam kata lain tentang ketidaksadaran manusia. Oleh karena itu menurut Zewar, tidak mungkin seseorang memahami perkembangan agama sebelum memahami penemuan-penemuan psikoanalisa frued. Pendapat ini pun juga dikritik dan dikecam oleh ilmuwan muslim terutama Malik Badri. Dalam kritiknya, Malik Badri menemukan bahwa penemuan-penemuan Frued berasal dari pengalaman Frued sendiri. Seperti pengalaman ketika dia kecil yang merasa adanya dorongan seksual dalam dirinya saat ibunya tidak berbusana.

  Malik badri menekankan kerancuan teori Frued ini juga didasari oleh pandangannya yang atheis bahwa keinginan anak untuk mencari Tuhan di luar orang dewasa. Beberapa ilmuwan juga menanggapi bahwa teori ini juga didasari oleh ide fundamentalis yang didapatkannya dari binatang dengan menempatkan seks (libido atau energy libinal) sebagai pendorong utama dalam segala tingkah laku manusia untuk mempertahankan eksitensi dirinya. Namun didalam Islam pandangan bahwa insting etis dan religious yang ada sejak lahir bertujuan mengenal tuhannya, akan tetapi hal ini dapat dirusak apabila orang tua tidak mengajarkan moral dan akhlak. Hal ini didalam Islam dipandang bahwa peran orang tua merupakan hal penting dalam membentuk karakter anak, baik dalam mendidik moralitas maupun keimanan terhadap Tuhan. Lain pula halnya dengan Djamaluddin Ancok dan Fuat Nashori Suroso yang mengemukakan bahwa asumsi Frued belum didasarkan pada premis valid, karena hanya mewakili orang gangguan jiwa dan penuh konflik.hal ini juga terjadi terhadap psikolog lainnya yang mudah menanggapi peristiwa yang tampak dalam kehidupan manusia.

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor