Konsep Islam Terhadap Pemeliharaan Lingkungan Menurut Yusuf Al-Qaradhawi dalam Kitab Ri’ayatul Biatul fi Syari’atil Islam.

Aco Wahab abdulwahab120788@gmail.com

Muqaddimah  

Saat ini kerusakan lingkungan telah masuk pada tahap serius sehingga mengancam keberadaan bumi dan kehidupan para penghuninya. Kerusakan lingkungan ini mengakibatkan banjir, erosi dan sedimentasi sungai, tanah longsor, kelangkaan air, polusi air dan udara, pemanasan global, kerusakan biodiversitas, kepunahan spesies tumbuhan dan hewan serta ledakan hama dan penyakit merupakan gejala lain yang tak kalah seriusnya.[1] Kerusakan lingkungan ini disebabkan oleh perilaku manusia yang rakus dan serakah dalam mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Oleh sebab itu perlu adanya usaha perbaikan dan pemeliharaan lingkungan. Islam memberikan jalan keluar akan masalah ini. Yusuf Qaradhawi menjelaskan konsep Islam dalam pemeliharaan lingkungan dalam bukunya yang berjudul ri’ayatul biatul fi syari’atil islam (Peduli Lingkungan dalam Syariat Islam). Dalam artikel ini akan dibahas bagaimana konsep Islam terhadap pemeliharan lingkungan.

Definisi Lingkungan

Lingkungan adalah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Pandangan Naughton dan Larry L. Wolf,2 mengartikan lingkungan sebagai sesuatu yang terkait dengan semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang secara langsung dapat mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi organisme. Menurut Munadjat Danusaputro lingkungan merupakan semua benda dan kondisi termasuk manusia dan perbuatannya yang terdapat dalam ruang tempat manusia berada dan mempengaruhi serta berkaitan dengan kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. [2]

Menurut Yusuf Qaradhawi, Lingkungan adalah sebuah lingkup di mana manusia hidup, ia tinggal di dalamnya, baik ketika berpergian ataupun mengasingkan diri. Sebagai tempat ia kembali, baik dalam keadaan rela ataupun terpaksa. Lingkungan ini meliputi yang dinamis (hidup) dan yang statis (mati). Lingkungan mati meliputi alam (thabi’ah) yang diciptakan Allah, dan industri (shina’iyah) yang diciptakan manusia. Alam yang diciptakan Allah tadi, meliputi lingkungan di bumi, luar angkasa dan langit, yaitu matahari, bulan dan bintang. Sedangkan industri ciptaan manusia, meliputi segala apa yang digali mereka dari sungai-sungai, pohon-pohon yang ditanam, rumah-rumah yang dibangun, seluruh peralatan yang dibuat, yang dapat mengecil ataupun membesar, untuk tujuan perdamaian ataupun perang.[3]

Lingkungan dibagi dua jenis yaitu: Pertama, lingkungan alamiah, adalah suatu keadaan atau kondisi alam yang terdiri atas benda-benda (makhluk) hidup dan benda-benda tak hidup yang berada di bumi atau bagian dari bumi secara alami dan saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Kedua, lingkungan buatan, merupakan areal atau komponen alam yang telah dipengaruhi atau direkayasa oleh manusia.[4]

Hubungan Pemeliharaan Lingkungan dengan Ilmu-Ilmu Islam

Yusuf Qaradhawi mengatakan ada suatu mispersepsi dari orang-orang yang mendalami khazanah keilmuan dan peradaban Islam, tentang masalah lingkungan ini. mereka mengatakan bahwa soal pemeliharaan lingkungan dan pelestariannya tidak termasuk dalam lingkup ilmu-ilmu dan kebudayaan Islam serta bukan hasil rintisan orang-orang Barat di masa kini. Padahal pemeliharaan lingkungan ini sangat berhubungan erat dengan ilmu-ilmu Islam yang orisinal.[5] Adapun ilmu-ilmu Islam yang berkaitan erat dengan pemeliharaan lingkungan yaitu: Pertama, Ilmu ushuluddin (dasar-dasar agama), ilmu ini berhubungan erat dengan pemeliharaan lingkungan dan semua elemen penciptaaanya.[6] Kedua, Ilmu etika dan tasawwuf, ilmu ini berhubungan erat karena kode etik pemeliharaan ini dalam bahasan etika dianggap sebagai salah satu rukun tasawuf.[7] Ketiga, Ilmu fikih, hubungan ilmu fikih dengan pemeliharaan lingkungan dari segala hal yang membahayakan dan merusak adalah hubungan yang memiliki hukum-hukum dan ajaran yang jelas dan sangat kompleks.[8] Keempat, Ilmu ushul fikih dan maqashid syari’ah (tujuan-tujuan syari’at), Di mana syari’at harus dipakai untuk menegakkan kemaslahatan umat di dunia dan di akhirat. Syari’at-syari’at itulah yang kemudian dinamakan ad-dharurah al-khamsa (lima kemaslahatan besar).[9] Kelima, Ilmu Al-Qur’an dan Sunnah, banyak dalil-dalil yang memberikan perhatian sangat besar pada lingkungan seperti nama-nama surat beserta muatan dalil yang dikandung. Berupa nama-nama surat yang memakai nama hewan, tumbuhan, serangga, nama-nama tambang serta nama-nama alam lainnya. Maka penggunaan nama-nama ini berimplikasi pada penumbuhan kesadaran dalam diri manusia supaya terikat dengan lingkungan dan alam sekitarnya.[10]

Konsep Islam dalam Pemeliharaan Lingkungan

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan lingkungan (eco-friendly) dan keberlanjutan kehidupan di dunia. Banyak ayat al-Qur’an dan al Hadist yang menjelaskan, menganjurkan bahkan mewajibkan setiap manusia untuk menjaga kelangsungan kehidupannya dan kehidupan makhluk lain di bumi, walaupun dalam situasi yang sudah kritis. Ayat yang berkaitan dengan alam dan lingkungan (fisik dan sosial) ini dalam al-Qur’an bahkan lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah khusus (mahdhoh).[11]

Islam mengatur kehidupan manusia secara kompleks dari bangun tidur hingga tidur kembali, dari hal-hal kecil hingga perkara besar. Termasuk adalah konsep pemeliharaan lingkungan. Menurut Yusuf Al-Qaradhawi, konsep pemeliharaan lingkungan dalam Islam sebagai berikut:

Pertama, penanaman pohon dan penghijauan, Islam sangat memperhatikan akan penghijauan dengan cara menanam dan bertani. Rasulullah bersabda “Apabila Hari Kiamat telah dibangkitkan, dan pada salah satu dari kamu memegang batang pohon kurma, maka bergegaslah menanam. (HR. Bukhari). Qaradhawi mengatakan tidak ada hadits yang lebih kuat anjurannya terhadap usaha menanam selain hadits ini, karena ia menunjuk pada sebuah pola pengembangan terhadap alam, yang dalam pengalamannya telah menghasilkan produk yang amat banyak.[12]

Kedua, membangun bumi, di antara ajaran Islam dalam usaha membangun bumi adalah membangun lahan-lahan yang sudah mati.[13] seperti yang diwahyukan Allah swt melalui Nabi Shaleh “…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…”.[14] Arti dari ista’marakum maksudnya adalah meminta pada mereka untuk membangun bumi.[15] Menghidupkan tempat-tempat mati bisa dilakukan dengan berbagai cara, dengan bertani dan bercocok tanam. Bisa juga dilakukan dengan mendirikan pemukiman sebagai tempat tinggal manusia.[16]

Ketiga, menjaga kebersihan, pada hakikatnya pandangan Islam terhadap kebersihan merupakan sebuah prinsip yang tidak disangkal dalam agama-agam lain, karena kebersihan adalah ibadah bahkan merupakan tindakan yang diwajibkan.[17]

Keempat, menjaga sumber daya alam yang merupakan nikmat Allah swt adalah kewajiban setiap manusia. Maka yang hendak mensyukuri nikmat itu, ia harus menjaganya dari pencemaran, kehancuran, serta bentuk-bentuk lain yang termasuk dalam kategori perusakan di atas muka bumi.[18] Allah berfirman “…maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Q.S. Al-A’raf: 74)[19].

Kelima, menjaga kesehatan manusia, keadaan sehat merupakan nikmat Allah yang terbesar kepada hambaNya dan kesehatan yang mutlak adalah sebenar-benarnya nikmat, maka sudah sepantasnya kita harus mensyukurinya dengan menjaga dan memelihara kesehatan.[20] Allah berfirman “…sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim:7).[21]

Keenam, ramah terhadap lingkungan, Islam mengajarkan agar setiap muslim berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan) berbuat ihsan atas segala hal”.[22] Makna dari hadits ini adalah bahwa Allah mewajibkan tersebut dengan sebenar-benarnya.[23] Di antara bentuknya adalah memperlakukan lingkungan tempat hidup kita dengan baik.[24]

Ketujuh, menjaga lingkungan dari kerusakan, Islam berusaha menjaga lingkungan dan elemen-elemennya. Menentang keras setiap bentuk tindakan yang merusak lingkungan maupun menghancurkan elemen-elemennya, dengan menganggap hal itu sebagai tidnakan terlarang yang akan memperoleh hukuman dari Allah dan wajib bagi kita untuk menghentikan serta merubah baik dengan tangan, perkataan atau hati dan yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman.[25]

Kedelapan, menjaga keseimbangan lingkungan, salah satu tuntunan Islam yang penting terhadap hubungannya dengan lingkungan adalah bagaimana menjaga keseimbangan lingkungan dan habitat yang ada tanpa merusaknya. Karena Allah telah menciptakan segala sesuatu di alam ini dengan perhitungan tertentu. Allah berfirman “kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (Q.S. Al-Mulk:3)

Penutup

Islam memiliki 8 konsep pemeliharaan terhadap lingkungan, yaitu: ada 8 konsep Islam dalam pemeliharaan lingkungan, yaitu: penanaman pohon dan penghijauan, membangun bumi, menjaga kebersihan, menjaga sumber daya alam, menjaga kesehatan manusia, ramah terhadap lingkungan, menjaga lingkungan dari kerusakan, menjaga keseimbangan alam. Jika konsep pemeliharaan ini kita jalankan, kerusakan lingkungan bisa dihindari sehingga lingkungan beserta penghuninya hidup dalam kesejahteraan. Akan tetapi sebaliknya jika konsep ini tidak dijalankan maka kerusakan lingkungan yang sudah parah akan bertambah parah.

  1. Tim Penulis, Teologi Lingkungan (Etika Pengolaan Lingkungan dalam Perspektif Islam), Tanpa Tempat: Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup Dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2011, h.11-13

  2. Moh. Fadli, dkk, Hukum dan Kebijakan Lingkungan, Malang: UB Press, 2016, h.3

  3. Yusuf Al-Qaradhawi, Ri’ayatul Biatul fi Syari’atil Islam, Kairo: Dar Al-Syuruq, 2001, h.12

    Yusuf Al-Qaradhawi, Islam Agama Ramah Lingkungan, Terj. Ri’ayatul Biatul fi Syari’atil Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001, h.5-6

  4. Tim Penulis, Teologi Lingkungan (Etika Pengolaan Lingkungan dalam Perspektif Islam), h.11-13

  5. Yusuf Al-Qaradhawi, Ri’ayatul Biatul fi Syari’atil Islam, h.20

  6. Yusuf Al-Qaradhawi, Ri’ayatul Biatul fi Syari’atil Islam, h.21

  7. Ibid, h.25

  8. Ibid, h.38

  9. Ibid, h.44

  10. Ibid, h.55

  11. Tim Penulis, Teologi Lingkungan (Etika Pengolaan Lingkungan dalam Perspektif Islam), h.20-21

  12. Yusuf Al-Qaradhawi, Islam Agama Ramah Lingkungan, h.88-89

  13. Ibid h.99

  14. https://tafsirweb.com/2223-quran-surat-al-anam-ayat-99.html diakses pada tanggal 2 Agustus 2021 pukul 21:03 WIB

  15. Yusuf Al-Qaradhawi, Islam Agama Ramah Lingkungan, h.90-91

  16. Ibid, h.102-103

  17. Ibid, h.105

  18. Ibid, h.117

  19. https://tafsirweb.com/2223-quran-surat-al-anam-ayat-99.html diakses pada tanggal 2 Agustus 2021 pukul 21:38 WIB

  20. Yusuf Al-Qaradhawi, Islam Agama Ramah Lingkungan, h.159

  21. https://tafsirweb.com/2223-quran-surat-al-anam-ayat-99.html diakses pada tanggal 2 Agustus 2021 pukul 21:47 WIB

  22. Imam An-Nawawi, Hadits Arbain An-Nawawiyah Terjemah Bahasa Indonesia, Tanpa Tempat: AW Publisher, h.18

  23. Yusuf Al-Qaradhawi, Islam Agama Ramah Lingkungan, h.183

  24. Ibid, h.211

  25. Ibid, h..221

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor