Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menurut Ismail Raji Al-faruqi

Oleh: Affan Wahyudi

  Ismail Raji al-Faruqi lahir di Jaffa, Palestina pada 1 Januari 1921 M dan meninggal dunia pada tanggal 24 Mei 1986 M. Ayahnya adalah Abdul Huda al-Faruqi, seorang qadi atau hakim yang terpandang di Palestina dan seorang tokoh agama yang cukup dikenal di kalangan sarjana muslim. Keluarganya merupakan keluarga kaya dan terkenal di Palestina. Al-Faruqi memperoleh pendidikan agama dari ayahnya dan ulama-ulama yang ada disekitar tempat tinggalnya. Al-faruqi lahir di palestina yang ketika itu masih dalam suasana yang tentram, damai, dan palestina masih begitu harmonis di bawah pemerintahan Islam khilafah Utmaniyah.[1]

  Ketika umat Islam mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan, sedangkan peradaban barat mulai menunjukkan perkembangan. Sehingga dalam kondisi seperti inilah masyarakat muslim melihat kemajuan barat sebagai sesuatu yang mengagumkan. Hal ini menyebabkan sebagian kaum muslimin tergoda oleh kemajuan barat dan berupaya melakukan reformasi dengan jalan westernisasi.

  Pada hakikatnya jalan yang ditempuh melalui jalan westernisasi telah menjauhkan umat Islam dari ajaran al-Qur’an dan Hadis. Sebab dewasa ini, berbagai pandangan yang dikembangkan oleh barat diterima begitu saja oleh umat Islam tanpa adanya filtetrasi yang mendalam. Oleh karena itulah Ismail Raji Al-faruqi mengemukakan gagasan dan pemikirannya terkait dengan Islamisasi ilmu pengetahuan serta yang berhubungan dengan masalah-maslah yang dihadapi oleh Umat Islam sekarang. Semua pemikirannya itu saling terkait satu sama lain, semuanya berproses pada satu sumber yaitu Tauhid.

Gagasan pemikiran Ismail Raji Al-faruqi

  Selama masa hidupnya al-Faruqi telah menulis banyak artikel, baik di majalah ilmiah maupun buku. Ia telah menulis lebih dari dua puluh buku dalam berbagai bahasa dan juga tidak kurang dari seratus artikel dipublikasikan dibermacam jurnal. Seluruh tulisannya pada dasarnya adalah gagasan-gagasan cerah dan teori untuk memperjuangkan proyek Islamisasi pengetahuan. Karya Ismail Raji Al-faruqi yang paling terkenal diantaranya buku yang berjudul “Tawhid: Its Implications For Thought And Life”, membahas tentang pengimplikasian Tauhid dalam berfikir dan kehidupan.

  Ada juga karyanya yang lain seperti Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Islamic Thought and Culture, The Cultural Atlas of Islam, dan masih banyak lagi buku- buku yang telah di gagas oleh Ismail Raji Al-faruqi. Dengan adanya karya-karyanya yang sangat berpengaruh terkhusus dalam perkembangan ilmu pengetahuan, peradaban umat Islam mampu melakukan perkembangan dan melakukan perlawanan terhadap peradaban barat yang semakin berkembang.

  Unsur terpenting dalam pemikiran Ismail Raji Al-faruqi bersumbu pada Tauhid. Ilmu yang mengedepankan kebenaran inilah yang menjadi dasar pemikiran Ismail Raji Al-faruqi dalam mengagas konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Menurut Al-faruqi Tauhid adalah keyakinan dan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, esensi peradaban Islam adalah Islam itu sendiri dan esensi Islam adalah Tauhid atau peng-Esaan terhadap Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai yang Esa. Keyakinan ini mengandung makna yang sangat kaya dan agung, karena semua keanekaragaman, kekayaan dan sejarah, kebudayaan dan pengetahuan, kearifan dan peradaban Islam ada dalam kalimat la ilaha illallah.[2]

  Idenya tidak lepas dari konsep tauhid, karena tauhid adalah esensi Islam yang mencakup seluruh aktifitas manusia. Begitu pun gagasannya mengenai Islamisasi Ilmu, bagi al-Faruqi, Islamisasi Ilmu pengetahuan berarti mengislamkan ilmu pengetahuan modern dengan cara melakukan aktivitas keilmuan seperti eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponennya. Untuk mendukung idenya, al-Faruqi telah menyusun rangkaian kerja yang harus dilakonkan. Meski terdapat pro-kontra namun gagasannya tersebut menjadi bahan kajian dan perjuangan umat Islam hingga kini.

  Gagasan tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan menurut Al-faruqi mengemukakan bahwasanya peradaban Islam dan Islamisasi Sains Modern harus dipahami kembali, karena saat ini yang menjadi masalah terbesar dari umat muslim yaitu hilangnya identitas dan visi Islam yang sebenarnya. Melalui konsep inilah Al-faruqi berusaha untuk menyumbangkan pemikiranya kepada umat Muslim agar dapat mewujudkan kembali peradaban Islam yang maju, berkembang, dan selalu berorientasi pada Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Kontribusi Pemikiran Ismail Raji Al-faruqi dalam Islamisasi Ilmu Pengetahuan

  Program Islamisasi Ilmu Pengetahuan Al-faruqi ini memiliki peran yang sangat signifikan dalam perkembangan peradaban Islam. Langkah dari program ini ialah sebuah integrasi ilmu dalam menangkal ilmu sekuler, yang disertai isme-isme yang datang dari luar yang belum tentu sesuai dengan peredaran darah dan konsep agama Islam yang kita anut. Melalui Pemikiran Ismail Raji Al-faruqi tentang islamisasi ilmu pengetahuan ini, mampu mengilhami para cendikiawan-cendikiawan yang ada di dunia.

  Bentuk nyata dari dampak pemikiran Ismail Raji Al-faruqi dapat dilihat dalam sistem pendidikan modern yang miskin akan nilai-nilai spiritual di Indonesia bahkan dunia. Para pemikir muda Islam yang mempelajari teori-teori ilmu pengetahuan modern memiliki ikhtiar yang sangat kuat untuk mengislamkan berbagai teori ilmu pengetahuan yang mereka pejari, karena banyak nilai-nilai yang ada pada ilmu modern itu jauh dari ruh spritual agama. Maka dari sinilah dapat kita pahami bahwa proses mengislamisasikan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada Tauhid ini sangat penting untuk diimplementasikan dalam dunia pendidikan bahkan di berbagai sektor keilmuan dunia.

  Islamisasi Ilmu Pengetahuan Al-faruqi ini dikenal bahkan menjadi sebuah solusi bagi keterpurukan umat islam saat ini. Dengan menjujung tinggi Islamisasi ilmu pengetahuan yang bersumber pada Tauhid, menjadikan Al-faruqi menjadi sosok cendikiawan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan peradaban Islam. Adapun sasaran atau target yang diinginkan dari Islamisasi Ilmu Pengetahuan ini adalah: Pertama, menguasai disiplin-disiplin ilmu modern. Kedua, menguasai khazanah Islam. Ketiga, menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern. Keempat, mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan khazanah ilmu pengetahuan modern. Kelima, mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola rancangan Allah.[3]

  1. Ramayulis dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan di Indonesia, (Ciputat : Quantum Teaching, 2005), h.107.

  2. Zuhdiyah, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Ismail Raji Al-faruqi, (Tadrib Vol. II No. 2 Edisi Desember 2016), hal 7.

  3. Umma Farida, Pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi tentang Tauhid, Sains, dan Seni, ( Fikrah, Vol. 2, No. 2, Desember 2014), Hal 11.

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor