Kritik Islam terhadap Positivisme dalam Konsep Pembentukan Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan merupakan seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Kata Ilmu berasal dari Bahasa Arab yaitu علم-يعلم-عِلمًا yang berarti mengetahui. Kata ilmu memiliki padanan kata yang lain yaitu “sains” yang diserap dari Bahasa Inggris yaitu “Science”. Kata science itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “scio”, “scire” yang artinya pengetahuan. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Agama Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, telah mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menuntut ilmu. Demikian disarikan dari Hadits tentang menuntut ilmu yang diriwayatkan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224,
طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.”


Dalam Hadits yang lainnya, Rasulullah SAW bersabda,
تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)
“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)


  Dari kedua Hadits di atas sudah terefleksikan bagaimana seharusnya umat Islam dalam menanggapi kewajiban menjadi seorang Alim (mempunyai ilmu) yang memiliki intelektualitas yang tinggi. Semangat ini harus terus dipelihara agar peradaban Islam tetap tegak berdiri, tidak dijatuhkan oleh peradaban Barat yang lebih cenderung mengesampingkan nilai agama.


Dalam Islam, ilmu pengetahuan memiliki landasan yang kokoh melalui Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan pedoman dalam agama Islam sekaligus menjadi cara pandang atau worldview; bersumber dari alam fisik dan alam metafisik; diperoleh melalui indra, akal, dan hati/intuitif. Cakupan ilmunya sangat luas, tidak hanya menyangkut persoalan-persoalan duniawi, namun juga terkait dengan permasalahan ukhrawi.
Al-Qur’an dan Al-Hadits merupakan wahyu Allah yang berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi umat manusia, termasuk dalam hal ini adalah petunjuk tentang ilmu dan aktivitas ilmiah. Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap aktivitas ilmiah. Terbukti, ayat yang pertama kali turun berbunyi; “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. Membaca, dalam artinya yang luas, merupakan aktivitas utama dalam kegiatan ilmiah.


Lain halnya dengan peradaban Barat, konsep ilmu yang dimilikinya cukup beragam karena mereka tidak memiliki atau salah dalam memilih pedoman hidup. Jika Islam memiliki konsep ilmu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, Barat hanya memiliki pendekatan-pendekatan (approaches) dari hasil berpikir saja. Adapun pendekatan yang digunakan tergantung pada jenis pengetahuan itu sendiri apakah pengetahuan rasional (melalui penalaran), pengetahuan empiris (melalui pengalaman konkret), atau pengetahuan intuitif (melalui perasaan secara individu). Setelah berhasil memahami dan menghasilkan suatu pengetahuan, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah hasil pengamatan manusia dengan segala upaya analisisnya yang bekerja sama dengan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui.


Dari semua pendekatan-pendekatan di atas, pendekatan empiris merupakan pendekatan yang mengandalkan pengalaman pribadi seseorang dalam mendapatkan pengetahuan. Empirisme melahirkan sebuah kerangka berpikir atau paradigma positivisme yang berasumsi bahwa ilmu pengetahuan diperoleh melalui penelaahan fakta secara objektif dan menolak keberadaan segala kekuatan atau subjek di belakang fakta. Jadi, positivisme tidak mengenal hal-hal yang bertolak belakang dengan empirisme dan bersifat metafisik.


Paham positivisme muncul di Perancis oleh seorang filsuf bernama Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte, atau lebih familiar dengan sebutan Auguste Comte. Ia juga disebut sebagai peletak dasar bagi ilmu Sosiologi dan dia pula-lah yang memperkenalkan nama “Sociology”. Bagi Comte positivisme merupakan sebuah cara pandang bahwa fenomena sosial dapat dijelaskan dengan menerapkan kaidah ilmu alam, baik secara epistemologis maupun metodologis. Selain comte, Rene Descartes beranggapan setiap peristiwa saling terkait satu sama lain (Interconnected), sehingga fakta dapat dideduksi, dapat diobservasi secara empiris, dan dijelaskan melalui Analisa logis. David Hume juga menambahkan bahwa manusia melakukan generalisasi dan menyimpulkan secara induktif fenomena yang diamati. Asumsi dasar yang dibangun positivisme diantara-Nya adalah pertama, Seluruh pengetahuan didasarkan pada data-data empiris dan pengalaman. Kedua, Ilmu haruslah bersifat objektif dan benar-benar bebas nilai. Ketiga, Mengadopsi kaidah-kaidah logika murni ilmu alam dan matematika.


Dari asumsi yang disebutkan tadi, maka telah diketahui bahwa positivisme menafikan nilai-nilai yang terkandung pada sebuah objek, mengagungkan objektivitas dan tidak menerima subjektivitas. Aliran positivisme hanya menggunakan cara berpikir aqliyah yang mencoba mengatur akal untuk mencari kebenaran. Karena menafikan nilai-nilai, maka positivisme menghindari berpikir secara naqliyah yaitu berpikir mengikuti prinsip-prinsip dari tauhid, Qur’an, dan Hadits, sehingga kebenaran yang diperolehnya tidak pernah mutlak.


Penilaian terhadap ketiadaan nilai atau bebas nilai ini tidak benar adanya. Segala sesuatu pasti memiliki nilai hingga apa yang mereka katakan soal bebas nilai itu adalah nilai adanya. Dalam hal ini, positivisme berupaya memisahkan urusan agama dengan urusan duniawi (ilmu pengetahuan). Pada perinsipnya, pengetahuan yang dihasilkan oleh pikiran manusia tidak luput dari subjektivitas dirinya. Setiap individu memiliki paradigma yang berbeda dalam merangkai pemikirannya. Latar belakanglah yang memicu seseorang berpikir sedemikian rupa karena sebab-sebab tertentu. Ada yang karena faktor lingkungan hidup, agama, budaya, dan lain sebagainya, sehingga membentuk worldview (cara pandang/berpikir) yang berbeda-beda. Maka dari itu, konsep ilmu barat selalu tidak pasti karena barat tidak memiliki hakikat kebenaran. Semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan akan selalu berbentuk dugaan sementara atau biasa dikenal sebagai hipotesis.


Maka dapat ditarik kesimpulan, Islam memiliki pedoman hidup berupa Al-Qur’an dan Hadits tidak hanya untuk melengkapi urusan ukhrawi saja, melainkan aspek kehidupan duniawi yang harus dipandang melalui kaca mata worldview Islam. Adanya Islam di dunia tidak sekedar berupa agama yang dianut manusia begitu saja tetapi di dalamnya terkandung nilai spiritualitas, kehidupan, dan pengetahuan.


Al-Qur’ān memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap aktivitas berpikir. Di dalam Al-Qur’an, kata fikr (pikiran) disebut sebanyak 18 kali, sekali dalam bentuk kata kerja lampau dan 17 kali dalam bentuk kata kerja sekarang. Salah satunya adalah dalam surat ali ‘Imran : 3: 191; “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”


Adapun peradaban barat yang tidak memiliki fondasi dasar agama akan selalu berada dalam kesesatan berpikir. Kesesatan berpikir akan mempengaruhi dalam penurunan kualitas aspek lainnya, terutama moral. Akal dan indra manusia memiliki jangkauan yang sangat terbatas sehingga membutuhkan kalam Ilahi untuk mengisi kekurangan naluri berpikir dan indra yang dimiliki.

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor