Makna Kebebasan Beragama DUHAM: Humanisme vs Islam

Riani Asyifa (riyaniasyifauim@gmail.com)

Pendahuluan

  Setiap manusia di dunia ini memiliki Hak Asasi Manusia (HAM).[1] Sifat universalitas HAM semakin kuat terlebih setelah pemikiran HAM ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai nilai universal dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada tahun 1948[2]. Maka seluruh negara anggota PBB harus mematuhi serta melaksanakan HAM demi kehormatan dan perlindungan harkat dan martabat manusia.[3]

  Secara umum humanisme merupakan paham yang memandang bahwa manusia adalah standar segalanya. Agama menurut humanis diyakini sebagai penghalang yang menutup kesadaran manusia.[4] Jargon para humanis yang telah subur dan berkembang di seluruh bagian kehidupan masyarakat dunia saat ini. “Lebih baik tidak religius tapi humanis, daripada religius tapi tidak humanis”. “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia”. Bahkan Nietzsche lebih dahsyat lagi memproklamirkan penghapusan Tuhan dalam diri manusia dengan menyatakan, “Tuhan sudah mati”. Nietzsche membunuh Tuhan dalam bentuk apapun, sehingga tidak ada ruang yang tersisa dalam diri manusia dan alam semesta bagi Tuhan.[5] Ungkapan ini mencerminkan ketidakpedulian terhadap agama, sehingga beranggapan bahwa dengan agama menjadikan orang tidak manusiawi.[6]

  Dari pernyataan di atas, sangat tampak bahwa kebebasan menjadi nilai yang harus dijunjung tinggi oleh humanisme. Kebebasan yang dimaksud merupakan makna bebas dari segala bentuk otoritas, baik politik, agama, dan Tuhan. Semangat kebebasan ini kemudian mewarnai segenap kehidupan masyarakat Barat, baik dari segi sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan bidang lainnya. Dari sinilah muncul gerakan liberalisme di Barat. Sehingga dikatakan bahwa liberalisme merupakan anak kandung dari humanisme.[7]

  Dalam perjalanannya, universalitas HAM yang konseptualisasi dan deklarasinya bermula dari Barat ini, mengalami perkembangan yang disarankan perlu adanya analisa dan evaluasi ulang secara lebih komprehensif. Pasalnya, dominasi Barat dalam membenihkan HAM dan konsep-konsep pendekatan atas isu-isu yang berkaitan terhadap non-Barat menuai banyak kritik dan pertanyaan. Terlebih kasus-kasus pelanggaran berat terhadap HAM yang menimpa umat manusia pada saat ini, yang kerap terjadi di negara-negara Barat. Namun yang paling merisaukan adalah pasal kebebasan beragama yang di dalamnya termuat kebebasan untuk berganti agama. Apabila ditinjau dari kacamata agama tentu ini sangat problematik.[8]

Kebebasan Beragama DUHAM dalam Islam

  Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Merupakan standarisasi kemanusiaan yang formal dan disepakati banyak Negara pendukung humanisme. Maka sangat jelas hak-hak asasi manusia dijunjung tinggi adapun agama-agama tidak lagi diberi ruang.

  Karena penyusunan deklarasi ini tidak melibatkan agama-agama maka banyak hal yang menjadikannya tidak universal. Terbukti banyak agama yang tidak puas. Pada bulan Juli tahun 1993, di New York, diadakan peluncuran acara Project on Religion and Human Right. Acara ini merupakan reaksi agama-agama terhadap DUHAM dan merupakan upaya untuk merevisinya.

Yang bermasalah adalah pada pasal 18 DUHAM, tentang kebebasan beragama. Disebutkan bahwa:

  “Setiap orang mempunyai hak kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama, hak ini termasuk hak mengubah agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk melaksanakan agama atau kepercayaan dalam pengajaran, praktek, beribadah, dan upacara keagamaan baik secara perorangan atau secara kelompok, sendirian atau di depan umum, otoritas keagamaan ditinggalkan”.[9]

  Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa kebebasan dalam DUHAM lebih menekankan pada ranah privat yang akan menimbulkan relativisme pemahaman, karena ukuran kebaikan dan tidaknya sesuatu adalah manusia dengan akalnya. Maka setiap penganut suatu agama bebas mengembangkan dan menyebarkan ajaran agamanya, akan tetapi tidak bebas mengembangkan atau menyebarkan ajaran agamanya kepada orang yang telah menganut agama lain dengan paksaan.

  Dalam bahasa sosial dapat dipahami bahwa kehidupan seseorang secara individu atau kelompok dalam ranah sosial terlebih bernegara tidak perlu disangkut-pautkan dengan nilai-nilai dan ajaran agama. Di sini sangat jelas bahwa Barat telah mereduksi makna Tuhan menjadi semangat kebangsaan dan hanya merupakan akal kolektif. Inilah makna kebebasan beragama di Barat yaitu bebasnya seseorang untuk beragama dan tidak beragama (atheist).[10]

  Sedangkan kebebasan beragama dalam pandangan Islam tidak sama seperti makna kebebasan beragama di Barat. Bila diamati lebih lanjut, prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Hadist banyak mengandung nilai-nilai HAM serta meninggikan martabat manusia di dalamnya. Prinsip-prinsip ini dituangkan dalam dua deklarasi yang telah dirumuskan. Pertama, Universal Islamic Declaration (UID) yang diumumkan pada acara konferensi The Prophet Muhammad and his Message, di London, pada tanggal 12-15 April 1980. Deklarasi tersebut kemudian dikembangkan menjadi Universal Islamic Declaration of Human Rights (UIDHR) yang disahkan di Paris pada tanggal 19 September 1981.

  Deklarasi ini berisi 23 pasal berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist yang telah disusun oleh para sarjana muslim, ahli hukum dan perwakilan dari gerakan dan pemikiran Islam.[11] Kedua, kebebasan memeluk agama, semua ini dijamin secara konseptual dalam Deklarasi Cairo (1990) pada pasal 10 yang berbunyi:

  “Islam adalah agama fitrah. Terlaranglah segala bentuk pemaksaan pada manusia atau eksploitasi kemiskinan dan kebodohannya demi memurtadkan dia ke agama lain atau ateisme. Ini membawa kita pada persoalan kemurtadan menurut hukum Islam vis-a-vis hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama.[12]

Kedua deklarasi di atas dinyatakan bahwa sumber hak-hak tersebut diambil dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist.

Penutup

  Setiap penganut suatu agama bebas mengembangkan dan menyebarkan ajaran agamanya, akan tetapi tidak bebas mengembangkan atau menyebarkan ajaran agamanya kepada orang yang telah menganut agama lain dengan paksaan atau cara lain yang tidak bersandarkan kepada keikhlasan atau kesadaran.

  Struktur worldview Humanisme adalah kehidupan manusia sebagai inti segala sesuatu. Tidak ada unsur Tuhan di dalamnya karena mereka sudah kecewa dengan Tuhannya sendiri. Sedangkan struktur worldview Islam adalah struktur yang sangat lengkap dengan berbagai konsep. Antara lain: konsep wahyu, konsep agama, konsep nabi, konsep penciptaan, dan konsep Qadha dan Qadhar. 

  1. Hak Asasi Manusia diartikan sebagai hak-hak mendasar pada diri manusia. Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  2. Syamsul Arifin, Studi Agama: Perspektif Sosiologi dan Isu-isu Kontemporer, (Malang: UMM Press, 2009), p. 253.

  3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (tk: Asa Mandiri, 2009), p. 3.

  4. Hasan Hanafi, Islamologi 3 dari Teosentris ke Antroposentris, LkiS, 2004, p. 68.

  5. Hendrikus Ender S, Humanisme dan Agama, dalam Bambang Sugiharto (Ed), Humanisme dan Humaniora Relevansinya bagi Pendidikan, (Yogyakarta: Jalasutra, 200), p. 188-189.

  6. Amin Abdullah, Humanisme Religius Versus Humanisme Sekuler Menuju Sebuah Humanisme Spiritual. Dalam, Islam dan Humanisme Aktualisasi Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Universal. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan IAIN Wali Songo Semarang, 2007), p. 187.

  7. Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta, Gema Insani Press, 2008), p. 76.

  8. Abdullah Saeed dan Hassan Saeed, Freedom of Religion, Apostasy and Islam, (Burlington: Ashgate Publishing Company, 2004), p. 10-12.

  9. Lihat isi Deklarasi Universal HAM PBB, Adnan Buyung Nasution dan A. Patra M. Zen, p. 141.

  10. Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam….,p. 34-39.

  11. Lihat naskah lengkapnya di http://www.alhewar.com/ISLAMDECL.html, tanggal 09 Agustus 2021.

  12. Mashood A. Baderin, Hukum International Hak Asasi Manusia & Hukum Islam, (Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia: 2007), p. 156.

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor