Mempertanyakan (Kembali) Keberislaman Kita

Ulasan buku “Minhaj: Berislam, dari Ritual hingga Intelektual” karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Pendahuluan

Buku ini diawali dengan kegelisahan penulisnya dalam menyikapi realita masyarakat muslim modern. Kesan tersebut saya simpulkan begitu membaca uraian Dr. Hamid ketika mengawali bukunya. Beliau menyajikan suatu kisah menarik untuk menggambarkan kondisi terkini umat Islam di seluruh dunia.

Kisah tersebut adalah tentang seorang Syekh bernama Muhammad ‘Abduh yang pada tahun 1884 berkesempatan mengunjungi Paris, Perancis. Dalam perjalanannya tersebut, beliau merasa kagum dengan bagaimana kondisi masyarakat barat yang hidup di Paris saat itu. Penduduknya memiliki etos kerja tinggi alias pekerja keras, ramah terhadap tamu, bersahabat, dan negaranya berkembang maju, bersih, dan teratur (Hlm. xii).

Syekh Muhammad ‘Abduh kemudian menyatakan kesimpulannya yang sangat terkenal itu: “Al Islam Mahjubun Bil-Muslimin” yang dalam terjemah bebasnya adalah: “Islam tertutupi oleh Muslim”. Dalam riwayat lain, kesimpulan beliau tidak jauh berbeda, hanya saja terdapat perbedaan redaksi: “Aku melihat Islam di Paris, tapi aku tidak melihat Muslim. Aku melihat Muslim di Arab, tapi aku tidak melihat Islam”.

Kesimpulan umum Syekh Muhammad ‘Abduh adalah bahwa Islam sebagai agama sudah cukup menjadi daya dorong yang luar biasa bagi kemajuan suatu peradaban. Pekeja keras, tertib, bersih, dan ramah sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hal-hal tersebut juga merupakan perintah agama Islam.

Namun, mengapa justru umat lain yang mengamalkan ajaran itu? Bukankah umat Islam lebih berhak dan lebih berkewajiban mengamalkan itu semua?

Pertanyaan-pertanyaan senada tersebut menjadi kunci pembuka untuk memahami tesis buku ini. Buku “Minhaj: Berislam, dari Ritual hingga Intelektual” pertama-pertama membahas makna Islam itu sendiri. Kemudian beranjak pada pembahasan mengenai keberislaman dalam tingkat ritual, iman, ihsan, hingga intelektual.

Corak keberislaman yang bertingkat-tingkat ini sejatinya tidak bermaksud saling menegasikan antara satu dengan yang lainnya. Justru sebaliknya, Dr. Hamid menekankan bahwa dengan keberislaman yang menyeluruh, kemajuan peradaban Islam menjadi suatu keniscayaan.

Selain kisah Syekh Muhammad ‘Abduh, terdapat total empat kisah yang ditulis oleh penulis dalam pengantarnya. Satu kisah telah disebutkan di awal, yakni mengenai kisah Syekh Muhammad ‘Abduh.

Tiga kisah lainnya menceritakan tentang seorang penulis cum sastrawan asal Libanon, yaitu Amir Syakib Arsalan. Kemudian kisah mengenai Syekh Mutawalli as-Sya’rawi dan terakhir kisah mengenai kolega penulis buku ini, yaitu Nuim Khayyat yang menjadi seorang penyiar radio terkenal di Australia pada tahun 1980-an. Keempat kisah tersebut membawa semangat pertanyaan yang sama: “Mengapa umat Islam dewasa ini mengalami kemunduran yang dahsyat dalam berbagai sektor kehidupan?”

Makna Islam

Untuk menjawab pertanyaan pada bagian akhir pendahuluan, Dr. Hamid terlebih dahulu menyajikan pembahasan mendasar tentang konsep “Islam”. Makna “Islam” baik dari segi bahasa maupun istilah dibahas dengan penyajian yang mudah dicerna.

Menurut beliau, konsep Islam dan berislam itu dinamis. Terdapat tiga makna penting dalam kata “Islam”. Ketiga makna tersebut adalah ketaatan, ketundukan, dan keselamatan. Dr. Hamid membuat korelasi yang penting dengan salah satu filsafat hukum barat yaitu konsep hukum alam (natural law). Yang dimaksud ketaatan adalah sikap seorang manusia untuk menaati sunnatullah (Hlm. 36).

Dalam menjalankan rutinitas sehari-harinya, seorang Muslim tidak boleh berlepas dari sunnatullahSunnatullah secara sederhana dipahami sebagai aturan-aturan Allah yang terjelma dalam alam dunia.

Seseorang yang lapar hendaknya makan. Seseorang yang haus, maka hendaknya minum. Sunnatullah pada makanan ialah menghilangkan lapar dan minuman menghilangkan haus. Maka, seorang Muslim, secara sederhana, tidak akan mengandaikan laparnya hilang tanpa memakan sesuatu.

Ia adalah sosok yang selalu berusaha dan tidak menentang sunnatullah. Dengan konsep berpikir demikian, tidak akan ada seorang Muslim yang lapar kemudian hanya berdoa tanpa berusaha dan seketika menginginkan laparnya hilang. Ia akan berusaha mencari dan bekerja secara halal untuk mendapatkan makanan guna menghilangkan laparnya.

Dalam konteks ketundukan, berislam itu tandanya adalah “berserah diri” kepada Allah. Ketundukan erat kaitannya dengan kerelaan. Kerelaan yang dimaksud adalah rela menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Seorang Muslim tidak mungkin dikatakan berislam dengan sempurna tanpa memiliki kerelaan yang sempurna juga. Kerelaan itulah yang menjadi motor bagi seorang Muslim untuk senantiasa beribadah dalam kesehariannya.

Selanjutnya, konsep ketiga dalam memaknai “Islam” adalah tentang keselamatan. Kata “Islam” yang sangat dekat dengan kata “Salam” dalam bahasa Arab, menyiratkan bahwa keberislaman juga berarti keselamatan.

Keselamatan ini memiliki dua sisi. Sisi yang pertama menekankan sisi personal yang artinya seseorang yang berislam tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Seorang muslim juga akan terjamin keselamatannya di dunia dan akhirat.

Sisi yang kedua menekankan sisi interpersonal atau kemasyarakatan. Dengan demikian, seorang Muslim mustahil menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Apatah lagi, ketika kita menyaksikan fenomena bom bunuh diri yang erat kaitannya dengan aksi terorisme. Tentu tidak masuk akal apabila seorang Muslim yang memahami konsep keselamatan, di saat yang bersamaan juga melakukan hal yang sangat membahayakan diri dan masyarakatnya.

Berislam dengan Ritual

Dalam Islam dikenal beberapa ritual keagamaan yang memiliki filosofi tersendiri. Beberapa ritual tersebut dalam Islam dikenal sebagai “Rukun Islam”. Seorang Muslim akan mengalami kecacatan dalam keberislaman, jika tidak melaksanakan dan menghayati rukun Islam ini.

Kelima rukun Islam tersebut adalah Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, dan Haji. Pelaksanaan terhadap kelima rukun Islam tersebut, tidak dapat dipisahkan dari dimensi penghayatan secara filosofisnya. Oleh karena itu, kuantitas dalam menjalankan rukun Islam tidak serta merta memberikan kebaikan tanpa diiringi oleh kualitas yang juga memadai. Keduanya—kuantitas dan kualitas—tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Sebagai permisalan, salat dalam Al-Qur’an mempunyai dampak mendasar, yaitu mencegah kemungkaran. Namun, apakah kuantitas salat seseorang pasti berkorelasi positif terhadap kualitasnya, yaitu mencegah kemungkaran tersebut? Sayangnya, jika kita mengamati realita, banyak diantara orang-orang yang salat justru masih saja melakukan berbagai macam kejahatan.

Banyak diantaranya yang melakukan korupsi, menipu, berkata kasar, dan gemar menganiaya sesama saudaranya. Inilah efek apabila kuantitas sekedar dipenuhi tanpa adanya penghayatan terhadap kualitas salat yang sesungguhnya.

Berislam dengan Intelektual

Kehadiran Islam tidak hanya sebagai penuntun ritual manusia dengan Sang Pencipta. Seakan-akan dengan kesan demikian, Islam hanya berkutat pada masalah-masalah “melangit” tanpa mengatur masalah-masalah yang “membumi”.

Tentu anggapan ini adalah anggapan umum para orientalis yang tidak mengkaji Islam secara objektif. Islam dikesankan sebagai agama yang terasing dan mengasingkan diri. Penuh kebekuan dan anti kemajuan.

Sebaliknya, Islam justru hadir dengan konsep-konsep yang bersifat sebagai pondasi kemajuan suatu peradaban. Islam merupakan cara pandang yang sempurna terhadap segala dimensi realitas. Baik realitas empiris-non empiris maupun realitas fisik-metafisik.

Oleh karena itu, seorang muslim akan menerima sesuatu yang empiris tanpa menganut paham empirisme. Seorang muslim akan mempercayai sesuatu yang tampak, tapi bukan berarti semua yang tidak tampak, maka lantas tidak dipercayai. Beberapa hal dalam Islam tidak dapat diindera penampakannya, tetapi bukan berarti hal tersebut tidak ada. Contohnya adalah dunia pasca kematian.

Dr. Hamid memberikan permisalan sederhana terkait pengertian cara pandang. Jika seorang muslim melihat daging kambing ia akan melihat dari dua sisi: pertama, sisi benda atau zat daging tersebut yang kasat mata dan kedua, sisi kehalalan daging tersebut yang tak kasat mata (Hlm. 199).

Seorang non-muslim hanya melihat kasat mata zat daging tersebut, tapi mereka tidak akan memikirkan — atau tidak memiliki konsep — mengenai kehalalan suatu daging. Permisalan ini dapat pula dihubung-kaitkan dengan peristiwa lain. Misal, dalam melihat suatu harta benda, seorang muslim tidak bisa hanya melihat zahirnya. Namun, seorang muslim akan memeriksa dengan teliti darimana harta benda tersebut diperolehnya. Apakah dengan cara yang haram atau halal?

Karena dalam setiap detiknya, Allah telah memerintahkan baik manusia dan jin untuk beribadah (QS Az-Zariyat: 56). Maka, segala hal termasuk didalamnya makan dan harta benda bagi seorang muslim selalu memiliki dimensi spiritual yang melebihi dimensi material.

Apabila hal ini tidak diindahkan, bisa jadi seorang muslim kenyang ataupun kaya raya, tetapi makanan dan harta yang diperolehnya tidak dengan cara yang halal. Akibat dari hal tersebut adalah terjerumusnya seorang muslim dalam kesengsaraan baik di dunia maupun di akhirat.

Definisi cara pandang Islam yang lebih mendalam diutarakan oleh seorang pemikir dan filsuf muslim modern dari Malaysia. Beliau adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dikutip oleh Dr. Hamid, al-Attas dalam bukunya Prolegomena to the Methaphysics of Islam, menyatakan bahwa cara pandang Islam adalah pandangan Islam tentang wujud (Hlm. 203).

Wujud disini bermakna realitas yang komprehensif. Mencakup empiris dan non-empiris. Dengan demikian, cara pandang Islam atau Islamic Worldview akan menjadi asas-asas pokok bagi segala perbuatan (Hlm. 252).

Seorang Muslim tidak akan berakhlak baik tanpa memiliki ilmu mengenai apa yang baik dan buruk dalam Islam. Ia juga tidak akan berpikir benar jika tidak mengetahui perbedaan mengenai kebenaran dan kesalahan dalam Islam. Sehingga, trilogi ilmu-iman-amal akan menjadi worldview yang saling berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya dalam pola pikiran seorang muslim ketika memahami realitas.

Kesimpulan

Buku ini sangat kaya akan penjelasan mengenai konsep-konsep keberislaman yang menyeluruh. Mulai dari keimanan hingga perbuatan. Dr. Hamid juga menjelaskan dengan sangat sistematis bagaimana keimanan menjadi titik sentral segala macam perbuatan seorang Muslim. Baik yang sifatnya ritual hingga intelektual.

Di samping itu, cara pandang Islam atau yang disebut juga sebagai Islamic Worldview berhasil disajikan beliau dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh berbagai kalangan.

Selain itu, poin plus buku ini terletak pada catatan-catatan kritis beliau terhadap berbagai macam usaha yang mengelirukan cara pandang Islam. Sebut saja paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Sehingga, catatan kritis tersebut menambah kekayaan referensi yang terdapat dalam buku ini. Tesis yang konsisten beliau pertahankan adalah: umat Islam belum maksimal dalam berislam. Oleh karena itu, apabila keberislaman ini telah dihayati secara menyeluruh, maka Islam akan (kembali) bangkit dengan peradabannya yang gilang-gemilang.

Judul Buku: “Minhaj: Berislam, dari Ritual hingga Intelektual”

Penulis: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil, Ph.D

Jumlah Halaman: 311 Halaman

Tahun Terbit: 2020

Penerbit: INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Jakarta Selatan

Ditulis Oleh : Muhammad Rafi Fakhriananda

CIOS UNIDA Gontor