Pendidikan Anak Berbasis Akhlak Perspektif Imam Al-Ghazali

Naning Wakhidya Rahmawati

Pendidikan Anak Berbasis Akhlak Perspektif Imam Al-Ghazali

Naning Wakhidya Rahmawati

wakhidyananing@gmail.com

Pendahuluan

Berbicara mengenai pendidikan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan itu sendiri, karena tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 berbunyi, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pendidikan menjadi sarana utama untuk membentuk karakter anak, sebagai generasi muda dan penerus bangsa. Mereka perlu dididik, dibentuk, bukan hanya untuk dapat melanjutkan hidup, tapi menjadi sebaik-baik ummat, dan sebaik-baik pemimpin. Namun bagaimana keadaan generasi penerus bangsa saat ini? Akhir-akhir ini masalah kenakalan remaja semakin tak terelakkan. Kenakalan tersebut merujuk pada perilaku yang berupa penyimpangan atau pelanggaran pada aturan atau norma yang berlaku, baik itu norma sosial, agama, maupun hukum. Kenakalan remaja merupakan permasalahan yang kompleks dan dipicu oleh berbagai faktor, namun pangkal utamanya karena lemahnya individu dalam mengontrol diri. Bermacam perilaku remaja menimbulkan keprihatinan, bahkan tak jarang dalam kehidupan bermasyarakat membuat keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat seperti arak-arakan sepeda motor. Dalam lingkungan sekolah kasus kenakalan remaja bermacam-macam jenisnya, dari tindakan pelanggaran ringan seperti bolos sekolah, berkata kotor, tidak sopan pada guru dan orang tua sampai kasus terberat seperti pembulian, perkelahian antar pelajar, tawuran antar sekolah, kasus pornografi, narkoba, tindakan asusila dan sebagainya. Sebagian orang mengatakan kasus kenakalan remaja merupakan hal normal sebagai bagian dari perjalanan individu dalam menemukan jati dirinya. Namun sebenarnya, kenakalan remaja adalah permasalahan yang serius, karena hal yang dianggap sepele jika dilakukan berulang kali pada akhirnya akan berdampak fatal dan merugikan diri sendiri bahkan orang lain.[1] Tumbuh suburnya praktik KKN, kenakalan remaja, dekadensi moral, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, tawuran antar mahasiswa atau siswa atau penduduk, ketidakjujuran dalam mengerjakan ujian (termasuk ujian nasional), dan masih banyak lagi, menjadi bukti lemahnya iman dan rendahnya nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang anak manusia. Hal ini ironis, karena krisis moral sama artinya dengan krisis akal (Said Agil 2005:33). Penekanan pendidikan yang lebih pada aspek kognitif dan psikomotorik dengan kurang memerhatikan pelaksanaan aspek afektif pada lembaga pendidikan hanya akan menghasilkan manusia yang pintar secara intelektual dan ketrampilan, tetapi rendah moral atau akhlaknya. Konsekuensinya, output lembaga pendidikan menjadi orang yang cerdik pandai (ilmuwan) tetapi bermental jahat sehingga mereka menjadi pejabat yang berjiwa KKN, teknokrat yang membuat kerusakan lingkungan hidup, konglomerat yang bermental penjudi, dan sebagainya (Said Agil, 2005:25).

Agama dan akhlak, merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Sebab, kualitas keberagamaan seseorang ukurannya adalah akhlaknya. Akhlak merupakan sebuah pilar penting dalam agama Islam. Akhlaq al-karimah adalah pertanda kematangan iman serta merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan misi Rasulullah Saw. menyampaikan ajaran Islam yaitu untuk menyempurnakan akhlaq. Beliau bersabda, Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. (HR. Ahmad dan Baihaqi). Berdasarkan hadits ini, pada dasarnya syariat yang dibawa Rasulullah Saw. bermuara pada pembentukan akhlak mulia (akhlaq al-karimah).

Di antara tokoh yang relevan dikaji pemikirannya dalam konteks pendidikan akhlak adalah al-Ghazali. Al-Ghazali merupakan tokoh yang sangat memerhatikan dunia pendidikan, karena menurutnya pendidikanlah yang banyak membentuk corak peradaban pada sebuah bangsa (Syamsul Kurniawan, At-Turats, Volume 3, Nomor 1, Desember, 2008, hlm. 23).

Pemikiran Al-Ghazali Tentang Akhlaq Al-Karimah

Secara bahasa kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang sudah di-Indonesiakan. Ia merupakan akhlaaq jama’ dari khuluqun yang berarti yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[2] Hakikat al-khuluq, kata Ibnu Manzhur, dipergunakan untuk bentuk manusia yang tidak tampak yaitu jiwa, sifat-sifat dan makna-maknanya yang khusus berkaitan dengannya, sebagaimana al-khalqu yang dipergunakan untuk bentuk manusia yang tampak, sifat-sifat dan makna-maknanya.

Menurut istilah, akhlak sebagaimana al-Ghazali, didefinisikan sebagai kondisi yang menetap di dalam jiwa, di mana semua perilaku bersumber darinya dengan penuh kemudahan tanpa memerlukan proses berpikir dan merenung. Apabila kondisi jiwanya menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang baik lagi terpuji, baik secara akal dan syariat, maka kondisi itu disebut sebagai akhlak yang baik, dan apabila yang bersumber darinya adalah perbuatan-perbuatan yang jelek, maka kondisi itu disebut sebagai akhlak yang buruk (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali, 2008: 57).

Al-Ghazali mengklasifikasikan akhlak ke dalam dua bentuk, yaitu akhlaq yang baik (al khuluq al hasan), dan akhlaq yang buruk (al khuluq as sayyi’). Al-Ghazali mengatakan bahwa induk dan prinsip akhlak ada empat, yaitu al hikmah (kebijaksanaan), asy syaja’ah (keberanian), al iffah (penjagaan diri) dan al ‘adl (keadilan). Kebijaksanaan adalah kondisi jiwa untuk memahami yang benar dari yang salah pada semua perilaku yang bersifat ikhtiar (pilihan); keadilan adalah kondisi dan kekuatan jiwa untuk menghadapi emosi dan syahwat serta menguasainya atas dasar kebijaksanaan. Juga mengendalikannya melalui proses penyaluran dan penahanan sesuai dengan kebutuhan; keberanian adalah ketaatan kekuatan emosi terhadap akal pada saat nekad atau menahan diri; dan penjagaan diri (‘iffah) adalah terdidiknya daya syahwat dengan pendidikan akal dan syariat. Maka, dari normalitas keempat prinsip ini muncul semua akhlak yang terpuji.” (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali, 2008, Juz III: 58).

Pendidikan Karakter Anak Berbasis Akhlaq Al-Karimah

Pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan karakter berbasis akhlaq al-karimah bisa dibaca, di antaranya melalui ulasan-ulasannya dalam Kitab Ayyuhal Walad (2005). Konsep al-Ghazali pada kitab ini, berpangkal pada empat hal ; pertama, pendidikan hendaknya berangkat dari titik awal tujuan pengutusan Rasulullah Saw., yakni untuk menyempurnakan akhlaq. Sehingga bentuk, materi, serta tujuan pendidikan dirancang agar terbentuk kepribadian seseorang yang berakhlaq mulia; kedua, kurikulum pendidikan mesti mampu mengoptimalkan potensi-potensi yang ada dalam diri anak; ketiga, pendidikan akhlaq adalah pendidikan integratif yang memerlukan kerjasama yang edukatif; keempat, sifat pendidikan akhlaq yang menyentuh dimensi spiritual anak.

Pendidikan semestinya dapat mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan perbaikan karakter atau akhlaq, yang berangkat dari niatan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Rumusan tujuan pendidikan ini disandarkan pada QS. Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Juga sesuai dengan sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia”.

Bagi al-Ghazali, seorang anak mesti dapat dididik sehingga menggunakan dunia untuk tujuan akhirat. Bukan berarti al-Ghazali menepikan urusan dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai alat untuk mencapai tujuan akhirat. Al-Ghazali mengasumsikan dunia sebagai ladang akhirat, karena menurutnya dunia ini dapat berfungsi sebagai sarana yang mengantarkan kepada Allah (Al-Ghazali dalam Muhammad Jawwad Ridha, 1980: 25).

Apa yang dikemukakan al-Ghazali ini, terutama agar seorang anak menjadi manusia yang paripurna yang tahu kewajibannya sebagai hamba Allah maupun pada sesama manusia. Hal ini misalnya terlihat dalam nasihat yang diberikan al-Ghazali sebagaimana dalam kitab Ayyuhal Walad (2005) seperti: pertama, pentingnya seorang anak mendekatkan diri kepada Allah; kedua, seorang anak bergaul dengan sesama secara santun, ramah, dan mawas diri; ketiga, seorang anak hendaknya menuntut ilmu yang bermanfaat terutama yang dapat
memperbaiki keadaan hati dan membersihkan jiwa; keempat, agar seorang anak tidak tamak terhadap harta benda, kecuali sekadar mencukupinya.

Pendidikan karakter berbasis akhlaq al-karimah perlu diberikan pada anak sejak usia dini. Hal ini karena hasil dari sebuah proses pendidikan tidak selalu didapat secara instant. Apalagi hasil dari pendidikan karakter anak berbasis akhlaq al-karimah amat bergantung dari banyak faktor. Dikatakan al-Ghazali, “mendidik anak ibarat mengukir di atas batu”. Hal ini sejalan dengan pengertian karakter menurut kebahasaan yang berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti menggoreskan pada lilin, batuan dan logam (Syamsul Kurniawan, At-Turats, Volume 6, Nomor 1, Desember 2012, hlm. 18).

Anak, sebagaimana pendapat al-Ghazali, ibarat kertas kosong, yang menerima
apapun yang dibuat padanya. Hal ini agaknya merupakan interpretasi beliau atas sabda Nabi Muhammad Saw, “Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, maka ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali sebagai tokoh pemikir besar muslim yang sudah diakui dunia Islam bahkan hingga Barat. Memiliki satu gagasan pendidikan yang berlandaskan kebahagiaan. Kebahagiaan di sini merupakan kebahagiaan di akhirat, kebahagiaan akhirat diraih dengan kebahagiaan & berbagai ikhtiar di dunia. Maka konsep pendidikan Al-Ghazali ini menyeluruh mencakup aspek dunia dan akhirat.

Pendidikan anak berbasis akhlak menurut Imam Al-Ghazali ini bisa menjadi salah satu metode yang patut dipertimbangkan dalam proses medidik anak karena berangkat dari hal yang paling mendasar dan sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu pembentukan akhlak atau budi pekerti dan bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

  1. Hasan Basri, Remaja Berkualitas: Problematika Remaja dan Solusinya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm-3.

  2. Ahmad Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV.Pustaka Setia, 1997), hlm-15.

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor