GambarSawah

Teknifikasi sebagai Problem Pertanian Modern

Inas Kamila Program Kaderisasi Ulama UNIDA Gontor, Ponorogo Email : inas.kamila3112@gmail.com

Pendahuluan

  Dalam perkembangannya mengikuti arus modernisasi, karakteristik pertanian telah  bergeser menjadi pertanian modern. Secara bahasa, agriculture berasal dari kata agri atau ager yang berarti tanah dan culture atau colere yang berarti pengelolaan. Pertanian dalam arti luas mencakup aktivitas bercocok tanam (dengan sawah), berkebun (dengan ladang), dan beternak (peternakan maupun perikanan). Sementara itu, pertanian modern dapat didefinisikan sebagai model pertanian skala luas atau sedang yang menggunakan input eksternal (pupuk kimia, pestisida sintetis, benih unggul, dan teknologi canggih lainnya) secara intensif dan padat modal, didukung oleh operasi mekanik (traktor, drones agriculture, harvester) dengan orientasi pasar (komersial), yang bertujuan untuk optimalisasi produksi, dan proses-proses agribisnis hulu hingga hilir. Kesuksesan pertanian modern bergantung kepada akses terhadap sumber daya, teknologi, manajemen, investasi, pasar, dan kebijakan pemerintah yang mendukung. Dalam pertanian tradisional yang tertutup, petani lebih mengandalkan kemampuan dirinya dan alam secara alamiah, sementara pertanian modern tidak hanya terbuka dengan sesuatu di luar kealamiahan melainkan bergantung terhadap modal eksternal tersebut. Dengan demikian, pertanian modern terkait erat dengan teknologiyang masuk menjadi perantara antara manusia (petani) dengan alam (tanah).

  Masuknya teknologi dan sains modern telah menggeser karakter pengambilan keputusan masyarakat, yakni dengan cara pandang yang dibatasi oleh teknologi sebagai penyingkapan dalam proses pembingkaian. Pengambilan keputusan yang demikian disebut sebagai teknifikasi dan terjadi ketika menyebarnya cara pandang (worldview) teknologis. Teknifikasi dalam pertanian modern diduga mengandung problem yang menjauhkan manusia dari hakikat penciptaan manusia dan alam. Tulisan ini membahas mengenai problem pertanian modern berupa teknifikasi dalam kaitannya dengan cara pandang dan mendudukkan problem tersebut pada pandangan Islam.

Teknologi, Teknifikasi, dan Worldview Teknologis

  Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, Technikon, yang berarti “that which belong to technē”. Technē sendiri memiliki dua arti. Pertama, technē digunakan untuk menyebut aktivitas dan kemampuan seorang pengerajin. Kedua, untuk “the arts of mind and the fine arts”, dimana technē mengarah pada “bringing-forth”. Mengenai definisi teknologi, Martin Heidegger memiliki pandangan tentang esensi teknologi, yakni penyingkapan, “revealing” dan kemudian menjadi lebih spesifik, “Enframing”. Enframing dari kata framing atau membingkai dengan tambahan en- yang menyatakan pengaruh aktif dari cara pengungkapan terhadap manusia. Enframing didefinisikan sebagai “the gathering together that belongs to that setting-upon which sets upon man and puts him in position to reveal the real, in the mode of ordering, as standing-reserve.” Berangkat dari esensi teknologi tersebut, Heidegger memandang bahwa sains modern sebagai manifestasi keinginan manusia untuk mengontrol alam dan pengontrolan terhadap alam tersebut akan menggeser keseimbangan antara manusia dan alam. Pandangan Heidegger ini nampaknya dapat dijadikan sebagai pijakan yang tepat dalam memandang dan menilai teknologi dalam perspektif keduniaan.

  Sebagaimana dalam penjabaran di atas, teknologi digunakan dan dikembangkan dengan berdasarkan suatu pengetahuan saintifik, logis, dan berdasarkan perhitungan. Dalam hal ini, hukum alam empirik akan mengendalikan keputusan manusia dengan batasan-batasan pada realita yang menundukkan pengetahuan manusia. Setelah manusia memperoleh pengetahuan saintifik tersebut, segala aktivitas dan produk dari keputusannya digunakan untuk mengendalikan alam. Pada kedua proses tersebut, nilai-nilai unik kemanusiaan dan etika kepada alam telah terabaikan dan dikecualikan dalam faktor-faktor penggunaan serta pengembangan teknologi. Ciri proses seperti ini, yakni penghilangan nilai kemanusiaan dan nilai kealaman, adalah ciri dari teknifikasi. Dalam teknifikasi, pengetahuan yang digunakan adalah terbatas pada pengetahuan yang dapat diukur melalui prosedur ilmiah.

  Teknifikasi adalah penyebaran budaya pengambilan keputusan yang berlandaskan pada suatu yang teknis dengan pendekatan teknis-rasional dalam mengontrol alam yang masuk dalam kehidupan manusia. Tujuan dari teknifikasi adalah memungkinkan hasil yang efisien dan efektif bagi entitas manusia sehingga kemanusiaan akan mengalami transformasi menuju dunia teknologis. Sains modern yang memproduksi teknologi tinggi telah berubah dari metode pembentuk alam menjadi sebuah worldview, yang telah menggeser cara berpikir lain maupun pandangan realitas alternatif untuk mengambil posisi otoritas. Teknifikasi terjadi ketika pandangan dunia teknologis menembus semua sektor budaya. Hal ini berbeda dari sekadar kehadiran perangkat dan objek teknologi dalam suatu budaya, melainkan bahwa pandangan dunia dari budaya itu diubah oleh hadirnya teknologi. Persepsi ilmu pengetahuan baru tentang dunia sebagai suatu yang netral, tak bernyawa, dan tertata secara logis telah menyingkirkan representasi keyakinan sebelumnya, termasuk di dalamnya adat dan agama.  Dengan demikian, teknifikasi dalam alam dipengaruhi oleh sains modern dan cara pandang yang melandasinya adalah worldview teknologis.

Problem Pertanian Modern

  Secara historis, permulaan era pertanian modern di Indonesia ditandai dengan pengembangan perkebunan teh, tebu, kina, karet, dan kakao oleh penguasa kolonial di Nusantara. Perkebunan adalah produk revoluasi industri yang menjadi penggerak utama modernisme dalam perspektif Barat. Ciri umumnya, terdapat organisasi atau institusi profesional yang berintegrasi dengan pengolahan sehingga timbul peningkatan nilai tambah. Selain itu, pertanian modern dikendalikan oleh inovasi dan investasi global, yakni bukan menjadi inisiatif dari petani sendiri. Sejak permulaan eranya di masa kolonial, pertanian modern terus mengalami perkembangan karena dijumpai berbagai permasalahan.

  Hingga saat ini, pengembangan pertanian modern terbagi menjadi empat tahapan. Pertama, pertanian modern 1.0 yang dilandasi praktik-praktik imperialisme yang memiskinkan, memaksa, dan mengeksploitasi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam Nusantara. Teknologi pertanian modern seperti alat mesin produksi dan input kimia dijadikan sebagai sarana atau senjata dalam pengendalian negara jajahan. Petani pribumi dijadikan sebagai produsen dan pengolah namun tidak dilibatkan dalam pemasaran dan konsumsi. Proses yang berlangsung selama beberapa abad telah menghancurkan struktur dan kebudayaan masyarakat. Berakhirnya tahapan ini bersamaan dengan berakhirnya kolonialisme di Indonesia dan sejalan dengan operasi program pertanian modern global dari Barat berupa revolusi hijau, pada pertanian modern 2.0.

  Kedua, pertanian modern 2.0 yang ditandai dengan revolusi hijau yang fokus pada modernisasi produksi pertanian non komoditas perkebunan. Tahap ini telah membawa perubahan besar di Indonesia dengan pembangunan pertanian pada berbagai aspek. Kondisi swasembada dan peningkatan produktifitas secara bertahap berbalik arah dengan impor hampir semua jenis kebutuhan pangan bangsa. Hal ini terjadi karena adanya kejenuhan menghadapi kerusakan sumberdaya pertanian, yakni peningkatan pendapatan yang hanya dinikmati oleh petani elit (capitalism/ enterpreneurial farm) sementara petani kecil (peasant) hanya meningkat biaya produksi dan utangnya. Revolusi hijau sukses berjalan sesuai tujuan perencanaannya, yakni  menjadikan negara-negara dunia ketiga sebagai produsen pertanian primer sekaligus konsumen input luar berupa teknologi yang diproduksi oleh negara industri. Kemunduran yang disebabkan oleh pertanian modern 2.0 terjadi dalam berbagai aspek, misalnya degradasi keragaman hayati, pencemaran air dan udara, hilangnya budaya dan kearifan lokal, serta kekalahan negara dalam kancah perekonomian global. Permasalahan teknologi ini diselesaikan dengan pergeseran menuju pertanian modern 3.0.

  Ketiga, petanian modern 3.0 disebut juga pertanian terpadu, pertanian berkelanjutan, dan pertanian post-industri. Sebagaimana revolusi hijau yang mengikuti agenda global, pertanian berkelanjutan adalah turunan paradigma pembangunan berkelanjutan (SDGs). Meski dinilai lebih humanis dan ekologis, tahapan ini masih didominasi input dari luar, bahkan praktiknya lebih mahal sehingga tidak terjangkau oleh petani kecil. Pertanian berkelanjutan pada faktanya diterapkan secara parsial karena tidak didukung oleh budaya lokal sehingga bias keberlanjutan ekologis dan abai terhadap keberlanjutan ekonomi. Dominasi negara maju menuntut standardisasi kualitas hasil pertanian organik yang sulit dicapai oleh petani karena ketergantungan dengan input luar dan kerusakan lingkungan. Menjawab permasalahan ini, dicetuskan pula konsep ekonomi hijau namun justru menjadi manipulasi environmentalism demi menjalankan creative capitalism. Selain itu, industrialisasi hijau menuntut bahan baku yang tinggi dan kontinyu sehingga menyedot stok kebutuhan manusia dan memaksa perluasan lahan. Hal ini tentu mengancam keberlangsungan ekosistem.

  Keempat, pertanian modern 4.0 berbasis teknologi super canggih (hyper technology) yang membuat pertanian menjadi serba instan, direkayasa, digerakkan oleh robot, terkontrol, serba kimia, buatan (artificial), cyber, energi alternatif, dan komputer. Ekstrimnya, pertanian pada tahap ini dilandasi pada ketakutan akan hancurnya bumi dan mengharuskan sebagian manusia hidup di luar angkasa. Ketakutan ini menimbulkan sikap menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan pengetahuan terlarang, menyimpang, dan abnormal. Pertanian dirancang untuk semaksimal mungkin mempertahankan kehidupan manusia, termasuk jika harus melakukan peperangan atau genosida terhadap kalangan tertentu. Pertanian pada tahap ini telah terlepas dari iklim dan kondisi-kondisi alamiah ekosistem karena segala sesuatunya telah direkayasa hingga memungkinkan timbulnya kebinasaan elemen ekosistem tertentu.      

  Dalam keseluruhan tahapan tersebut, pertimbangan dalam pengambilan keputusan adalah hal-hal teknis yang melibatkan teknologi dalam esensinya dan mengutamakan aspek efektivitas. Dengan demikian, teknifikasi telah menjadi problem yang menggeser pertanian menjadi aktivitas pemerasan alam yang berlebihan dengan teknologi. Teknologi tidak hanya sebagai instrumen, melainkan cara pandang manusia terhadap alam. Problem ini dapat dijawab dengan mendudukkan teknologi sesuai dengan tempatnya dan memberikan cara pandang Islam terhadap hubungan alam dan manusia dalam kaitannya dengan teknologi.

Alam dan Manusia sebagai Makhluk : Paradigma Baru Pertanian

  Islam memiliki pandangan yang unik mengenai hubungan manusia dan alam. Islam memandang alam bukan sebagai sesuatu yang independen dan dapat mengatur dirinya sendiri, melainkan selalu terhubung dengan penciptaan dan Tuhan. Alam didefinisikan sebagai segala sesuatu di luar Tuhan, termasuk manusia. Alam menjadi tanda dari keagungan dan keindahan Allah yang dapat diperhatikan oleh manusia untuk mencapai keimanan yang tinggi kepada Allah. Artinya, manusia dapat “melihat” tanda-tanda Allah di dalam dirinya maupun di luar dirinya pada alam. Alam diberi sebagian dari asma kebesaran Allah untuk berjalan sesuai dengan kehendakNya. Misalnya, tanah diberikan kemampuan untuk menumbuhkan tanaman-tanaman sehingga bumi menjadi ‘hidup’. Manusia diberikan tugas dan kemampuan sebagai khalifah fil ardl, untuk mengatur keberlangsungan alam di bumi. Kedua kemampuan itu tidak akan terpisah dari penciptaan dan pemberian Allah. Tanah tidak akan menumbuhkan tanaman tanpa Allah menurunkan hujan dari langit, ini terjadi sesuai sunnatullah, tanpa adanya perlawanan dari tanah. Sementara itu, manusia yang diberikan potensi akal dan kebutuhan hidup, dianugerahi Allah dengan segala sumberdaya alam untuk melanjutkan kehidupannya. Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan yang menjalankan visi penciptaan Allah, yakni agar manusia menyembah dan beribadah kepadaNya semata.

  Allah telah menundukkan alam untuk manusia, sebagaimana dalam Q.S. 16 [12], maka manusia tidak perlu menundukkan alam di bawah kendalinya dengan teknologi sebagai cara pandang. Penyingkapan manusia, sebagai esensi teknologi, terhadap alam, dalam makna pertanian, tidak seharusnya hanya mempertimbangkan faktor teknis semata.  Dimana kerusakan alam adalah akibat penyingkapan manusia yang berlebihan, dengan teknologi pertanian, dan peringatan dari Allah supaya manusia kembali pada perannya sebagai khalifah fil ardl. Pertanian yang seharusnya adalah aktivitas menyingkap rizki dari Allah yang ada pada alam demi menjalankan visi penyembahan (ibadah) berubah menjadi pengkhianatan terhadap amanah Allah. 

Catatan Penutup

  Problem mendasar teknifikasi pada pertanian yang muncul dari cara pandang teknologis, dijawab melalui cara pandang Islam. Independensi dan dualisme alam-manusia dijawab dengan pengaturan Allah terhadap ciptaanNya. Dominasi manusia dengan teknifikasi dihapus dengan mendudukkan alam, manusia, dan teknologi sesuai perannya (fitrah). Allah telah menundukkan alam untuk keperluan manusia, dimana manusia sebagai khalifah fil ardl mengatur alam dengan teknologi. Teknologi bukan menjadi cara pandang, melainkan sebagai instrumen dalam rangka menjalankan visi penciptaan.

Referensi

B.J. Marwoto, Kamus Latin Populer, (Jakarta: Kompas, 2009)

Donald E. Polkinghorne, Pracice and The Human Sciences : The Case for a Judgement-Based Practice of Care, (State University of New York, New York : 1994)

 Iwan Setiawan, dkk., Pertanian Postmodern : Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara, (Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya, 2018)

Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essays, terj. William Lovitt, (New York: Harper&Row, Publisheres, Inc., 1977)

Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia, editor Ahmad Baiquni, (Bandung: PT Mizan, 2017)

Osman Bakar, The Qur’anic Pictures of The Universe, (Brunei Darussalam dan Kuala Lumpur: UBD & IBT, 2016)

Willian Calvin Motes, Modern Agriculture and Its Benefits- Trends, Implications and Outlook, (Global Harvest Initiative, 2010) 

CIOS UNIDA Gontor