Teori Invisible Hand Adam Smith dalam Presfektif Ekonomi Islam

Muhamad Cholik Yuswara Azmi

“Teori Invisible Hand Adam Smith Dalam Presfektif Ekonomi Islam”

Muhamad Cholik Yuswara Azmi

muh.cholikyuswaraazmi10@mhs.unida.gontor.ac.id

Adam Smith merupakan tokoh yang mencetuskan lahirnya ekonomi kapitalis, yang sampai saat ini masih diterapkan di Amerika dan Eropa. Sistem ekonomi kapitalis merupakan suatu sistem ekonomi yang mengedepankan untuk memupuk modal secara besar besarnya. Sistem ekonomi ini muncul pada abad 18-19. Adam Smith dijuluki sebagai bapak ekonomi kapitalis, karena beliau yang menggagas tentang lahirnya ekonomi kapitalis. Nama lengkap dari Adam Smith yaitu John Adam Smith. Adam Smith dilahirkan di Kirkcaldy, Skotlandia. Adam Smith lahir pada tanggal 5 Juni 1723 dan meninggal pada tanggal 17 Juli 1790, Britania Raya. Smith merupakan pelopor ekonomi kapitalis yang berhasil mengeluarkan karyanya yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation atau yang disingkat dengan The Wealth of Nations. Buku ini merupakan buku pertama yang menggambarkan tentang sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar dasar dari perkembangan perdagangan bebas kapitalime.

Adam Smith sebagai seorang pendiri ekonomi kapitalis, semula merupakan seorang filsuf. Smith berusaha keras untuk menjadi seorang yang moralis dan untuk mencapai itu, Smith menjadi seorang ekonom. Pada saat Smith mempublikasikan tentang The Theory of Moral Sentiments, pada tahun 1759, kapitalisme modern baru saja dikenal. Smith terkesima dengan pandangan kapitalisme, yang seolah memberikan kekuatan baru. Smith bukan hanya tertarik pada angka angka, namun juga dampaknya pada kehidupan manusia. Artinya terdapat suatu fakta bahwa kekuatan ekonomi dengan cepat dapat mengubah cara orang bertindak dan berpikir dalam situasi tertentu yang dihadapi.[1]

Suatu kaum Merkantilis merupakan pelopor pembuka pintu zaman, bagi perubahan besar suatu perekonomian. Ditemukan daerah-daerah baru menandai lahirnya suatu masa perniagaan yang luas dan ramai serta lahirnya negara-negara yang berdaulat. Negara-negara jajahan, dominion dan protekorat disamping negara boneka yang menjadi suatu tempat untuk berkembangnya perniagaan dan perdagangan.[2] Sebelumnya para filosofis agama selalu menekankan kepada jemaahnya untuk membina dasar moral yang baik bagi kehidupan ekonomi. Sampai abad XV Kesehatan jiwa serta kebutuhan masyarakat secara keseluruhan dipandang sebagai hal yang lebih penting daripada kehidupan ekonomi. Mencari kekayaan ekonomi untuk diri sendiri dinilai dosa, karena hal itu dapat melalaikan orang dari Kesehatan jiwanya, sedangkan perekonomian pasar menghendaki sebaliknya. Keberhasilan seseorang dapat dinilai dari kemampuannya menaklukan pesaing-pesaingnya. Orang dipandang berhasil dalam hidupnya bila mereka berhasil memperoleh kekayaan materiil daripada kekayaan moral. Lalu mulailah mereka meragukan ajaran-ajaran pendeta mereka.[3] Sehingga tumbanglah kekuasaan gereja di dalam perekonomian setelah mengalami kejayaan pada berabad-abad lamanya.

Sejak zaman itu munculah pemikir-pemikir baru perekonomian, diantaranya Adam Smith yang digelari sebagai “Founder of New Economic”. Perjalanan ilmu ekonomi mengalami Revolusi, sejak diterbitkan buku oleh Adam Smith yang berjudul “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation” yang dikenal dengan teori tangan gaib “ the theori invisible hand”. Dalam buku ini pertama kali muncul perumusan tentang perkonomian kapitalisme. Adam Smith mendasarkan pada bukunya suatu sistem kebebasan alami (a system of natural liberty) dimana setiap individu dipersilahkan mengejar kepentingannya masing-masing.[4]

Menurut Adam Smith kepentingan pribadi (self interest) merupakan kekuatan pengendali perekonomian. Semua proses yang dijalankan akan menuju kearah kemakmuran bangsa, seolah-olah setiap individu didorong oleh “Tangan Gaib” (The Invisible Hand) yang mendorong mereka maju.[5] Dalam bukunya The Wealth On Nation, Adam Smith menyatakan:

“Every individual endeavors to employ his capital so that its produce may be of greatest value. He generally neither intends to promote the public interest nor knows how much he is promoting it. He intends only his own security, only his own gain. And he is inthis led by an Invisible Hand to promote an end which was no part of his own intention. By pursuing his own interest he frequently promotes that of society more effectually then when be really inteds to promote it “

Setiap individu berusaha untuk menggunakan modalnya sehingga diperoleh hasil yang setinggi-tingginya. Dia pada umumnya tidaklah bermaksud untuk menunjang kepentingan umum dengan perbuatannya itu, dan pula ia tidak tahu sampai seberapa jauhkah penunjangnya itu. Ia berbuat itu hanyalah untuk kepentingan sendiri, hanya untuk keuntungannya sendiri. Didalam hal ini ia dibimbing oleh suatu “Tangan Gaib” untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuan utamanya. Dengan mengejar kepentingan pribadi seperti itu, ia akan mendorong kemajuan masyarakat dengan dorongan yang seringkali bahkan lebih efektif daripada kalau ia memang sengaja melakukannya.

Pendapat Adam Smith tentang Invisible Hand sebenarnya sudah tua sekali umurnya, bukan saja sejak jamannya Francois Quesney, tetapi bahkan sejak zaman hidupnya Jean Baptise Colbert pemuka kaum merkantilis. Laizzes Faire dipakai sebagai pedoman pokok kaum liberal (pengikut Adam Smith), serta menjadi motto kaum kapitalis.[6] Sejak revolusi Adam Smith inilah perekonomian kapitalis mengalangi jaman keemasan.

Islam dalam memandang masalah ekonomi berbeda dalam sudut pandang kapitalis perlu dilihat dalam prinsip umum Ekonomi Islam guna memahami ajarannya tentang hak kepemilikan, didalam hal ini Tuhan menciptakan dunia dengan kekayaannya yang melimpah untuk dimanfaatkan seluruhnya oleh manusia, Karenanya, semua itu menjadi hak milik namun dengan cara yang hak.[7]

Dalam hal ini ada dua karakteristik ekonomi Islam yang harus dipahami, yaitu: (1) semua harta, baik benda maupun alat produksi adalah milik (kepunyaan) Allah. Hal itu bermakna bahwa, pemilik harta yang sesungguhnya adalah Allah swt sementara manusia hanya memiliki hak untuk men-tasharruf kan (memanfaatkan) harta itu. (2) Manusia adalah khalifah atas harta miliknya. Sebagai khalifah atas harta miliknya, maka manusia diberi hak untuk memanfaatkannya, sebatas sebagai wakil-wakil Allah dalam penggunaan harta tersebut.[8] Islam betul-betul mengakui penghakkan atas harta milik secara pribadi, namun pemilikan pribadi berbeda dengan pemilikan absolut, hanya Tuhan yang berhak untuk hal ini. Pemilikan pribadi yang sah adalah hak untuk memanfaatkannya dan membagi-bagikannya.

Prinsip tersebut menggambarkan system ekonomi Islam merupakan system yang adil dan seksama serta berupaya menjamin kekayaan tidak terkumpul hanya pada satu kelompok saja, tetapi tersebar keseluruhan masyarakat. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an ” (QS. Al-Hasr [59]:7)

مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

Harta rampasan (fai’) dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang- orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.

Prinsip ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan dalam masyarakat. Seandainya harta itu hanya berada ditangan pribadi (monofoli kelompok) tertentu, anugerah Allah tersebut hanya berada ditangan segelintir orang. Dalam konteks kekinian, hal tersebut dapat diambil ilustrasi bahwa sikap mental oligopoli, monopoli, kartel dan yang sejenis dengannya merupakan sikap mental pengingkaran Nurani kemanusiaan dan jelas menyimpang dari aturan Islam.

Secara umum, Nabi Muhammad tidak pernah mengecam praktik pengumpulan kekayaan. Yang dikecam adalah praktik kecurangan dalam kegiatan ekonomi tersebut. Beberapa literatur bahkan menempatkan Nabi sebagai pembela mekanisme pasar. Dia, misalnya, menolak permintaan para sahabat untuk mengendalikan gejolak ekonomi dengan mematok harga. Mematok harga adalah perbuatan yang melawan sunnatullah. “Sesungguhnya Allah lah yang menetapkan harga, dan menurunkannya, melapangkan dan meluaskan rezki. Janganlah seseorang di antara kalian menuntut saya untuk berlaku zalim dalam soal harta maupun nyawa” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Sistem ekonomi Islam memiliki pandangan bahwa seluruh harta yang ada di dunia ini sesungguhnya milik Allah, berdasarkan firman Allah, “dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu” (QS. An-Nur [24]:33)

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗوَالَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ الْكِتٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوْهُمْ اِنْ عَلِمْتُمْ فِيْهِمْ خَيْرًا وَّاٰتُوْهُمْ مِّنْ مَّالِ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اٰتٰىكُمْ ۗوَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيٰتِكُمْ عَلَى الْبِغَاۤءِ اِنْ اَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوْا عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَمَنْ يُّكْرِهْهُّنَّ فَاِنَّ اللّٰهَ مِنْۢ بَعْدِ اِكْرَاهِهِنَّ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian

dirinya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunianya. Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barang siapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah maha pengampun, Maha penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa. (QS. An-Nur [24]:33)

Oleh sebab itu, menurut Islam harta itu seharusnya hanya bisa dimiliki, dimanfaatkan, dikembangkan, dan didistribusikan secara sah sasuai dengan yang di perintahkan oleh Allah. Dan dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi Islam dapat dicakup dalam tiga buah yang utama, yaitu:

  1. Kepemilikan (al-milkiyah)
  2. Pemanfaatan dan pengembangan kepemilikan (al-tasharruf al-milkiyyah)
  3. Distribusi harta kekayaan di tengah-tengah manusia (tauzi‘ tsarwah bayna alnās)
  1. Siska, Y . 2015. Manusia dan Sejarah: Sebuah Tinjauan Kapitalis. Yogyakarta: Garudhawaca.

  2. Suherman Rosidi, Pengantar Teori Ekonomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal 13.

  3. Daniel R. Fusfeld, The Age of the Economist, Ideas that Shape the Way we Live, Pyramid Publication, New York,1972, hal 18

  4. Suherman op. cit hal. 16.

  5. Paul A. Samuelson, Economics, Ninth Edition, Mc Graw Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo, 1973, hal 3

  6. Suherman Rosidi, loc.cit, hal. 16.

  7. Hossein Askari, 1985, hlm. 52

  8. Ali Yafie, dkk, Fiqh Perdagangan Bebas, Jakarta: Teraju, 2003, hlm. 30

CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

University of Darussalam (UNIDA) Gontor

Dusun I, Demangan, Kec. Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63471

Office

© Copyright CIOS 2021 | Made With ❤

CIOS UNIDA Gontor